Suasana di Yalova pada 22 Desember 2025 itu terasa berbeda. Di tengah kemeriahan upacara pembukaan Kejuaraan Wushu dan Kung Fu Remaja Turki, perhatian banyak orang tersedot pada simbol-simbol yang tak biasa. Bendera dan spanduk Palestina berkibar dengan jelas, dipegang oleh atlet dan panitia. Dukungan untuk Palestina bukan lagi sekadar bisikan, tapi terpampang nyata di arena olahraga.
Namun, yang paling mencolok adalah poster besar yang terpampang. Di sana, wajah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berdampingan dengan gambar Abu Ubaidah, juru bicara Brigade Al-Qassam. Pemandangan itu langsung menimbulkan berbagai tafsir.
Acara berlanjut dengan momen hening. Para hadirin berdiri untuk mengenang para syuhada di Gaza. Setelah keheningan itu, sebuah klip video bertema pro-Palestina diputar untuk penonton. Rangkaian gestur simbolis ini, menurut penyelenggara, adalah bentuk ekspresi politik dan budaya. Mereka ingin menekankan soal persatuan dan rasa hormat antar bangsa. Tapi bagi banyak pengamat, pesannya jauh lebih spesifik dari itu.
Sebenarnya, ini bukan kali pertama atlet Wushu Turki melakukan hal serupa. Ada sejarah panjang di sini.
Ambil contoh Necmettin Erbakan Akyüz, juara enam kali yang namanya sempat ramai. Akhir 2023 lalu, dia harus berurusan dengan Federasi Wushu Kungfu Eropa (WKFE). Penyebabnya? Dia mengibarkan bendera Palestina dan menarikan dabke, tarian tradisional, di atas podium. Akyüz diselidiki dan akhirnya diskors.
Reaksinya tak main-main. Pada Mei 2025, di sebuah ajang bergengsi, Akyüz membuat kejutan. Alih-alih memamerkan medali kemenangannya, dia justru melemparkannya ke Sungai Nil. Itu adalah protes keras terhadap sikap WKFE yang dianggapnya tidak adil.
Jadi, apa yang terjadi di Yalova sepertinya bukan insiden tunggal. Ini lebih mirip kelanjutan dari sebuah narasi yang sudah berjalan lama. Olahraga dan politik, sekali lagi, sulit dipisahkan.
Artikel Terkait
Tabrakan Beruntun di Tol Ngawi-Solo Akibat Pengereman Mendadak, Tiga Orang Terluka
Prabowo Undang Australia Bentuk Joint Venture Pertanian
Baruasak, Kue Tradisional Bugis-Makassar yang Menyimpan Filosofi dan Cita Rasa Warisan
Kecelakaan Beruntun di Tol Surabaya-Gempol Diduga Akibat Hilang Konsentrasi