Ambil contoh Necmettin Erbakan Akyüz, juara enam kali yang namanya sempat ramai. Akhir 2023 lalu, dia harus berurusan dengan Federasi Wushu Kungfu Eropa (WKFE). Penyebabnya? Dia mengibarkan bendera Palestina dan menarikan dabke, tarian tradisional, di atas podium. Akyüz diselidiki dan akhirnya diskors.
Reaksinya tak main-main. Pada Mei 2025, di sebuah ajang bergengsi, Akyüz membuat kejutan. Alih-alih memamerkan medali kemenangannya, dia justru melemparkannya ke Sungai Nil. Itu adalah protes keras terhadap sikap WKFE yang dianggapnya tidak adil.
Jadi, apa yang terjadi di Yalova sepertinya bukan insiden tunggal. Ini lebih mirip kelanjutan dari sebuah narasi yang sudah berjalan lama. Olahraga dan politik, sekali lagi, sulit dipisahkan.
Artikel Terkait
Vinicius dan Camavinga Santai Berbincang Usai Prancis Kalahkan Brasil
Macet Parah Landa Tanjung Bunga Imbas Pensi Smansa 2026 yang Dihadiri Ribuan Penonton
Timnas Indonesia Hancurkan Saint Kitts dan Nevis 4-0, Lolos ke Final FIFA Series 2026
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama Pendidikan dan Investasi dengan Pejabat AS