Suara Lantang di Karpet Merah: Javier Bardem dan Sikap Politiknya
Javier Bardem bukan cuma aktor papan atas peraih Oscar. Belakangan ini, namanya lebih sering muncul bukan karena peran film, melainkan karena pernyataan-pernyataan politiknya yang blak-blakan. Ia dengan keras mengkritik apa yang dilihatnya sebagai keterlibatan dunia internasional dalam konflik di Gaza. Intinya sederhana tapi tajam: “Israel membunuh, AS mendanainya, Eropa mendukungnya.” Kalimat itu sudah jadi semacam mantra baginya.
“Israel Kills, The US funds it, Europe Support it.”
Sepanjang 2025, pesan itu ia sampaikan berulang kali, di berbagai panggung. Gak tanggung-tanggung.
Di Layar dan di Atas Panggung
Ambil contoh di penghargaan Emmy, September lalu. Saat para selebritis sibuk tersenyum untuk kamera, Bardem muncul dengan keffiyeh dililitkan di leher. Itu bukan sekadar aksesori fashion. Di wawancara karpet merah, ia menyelipkan seruan “FREE PALESTINE.” Langsung saja, momen itu jadi salah satu pernyataan politik terkuat malam itu. Ia mengecam keras situasi di Gaza, menyerukan blokade dan sanksi terhadap Israel.
Sebelumnya, di bulan Juli, unggahan Instagramnya juga bikin heboh. Sebuah video menampilkan seorang pria Palestina dengan anak yang tewas. Di keterangannya, Bardem menulis keras: “Israel membunuh. AS mendanainya. Eropa mendukungnya. Hanya kita, orang-orang yang beradab, yang tersisa untuk mengecam genosida ini!! Jangan diam! Atau Anda akan ikut terlibat.”
Lalu ada penampilannya di acara The View bulan Juni. Di sana ia berargumen bahwa dukungan finansial dan militer AS, ditambah dengan apa yang ia sebut “keheningan” Eropa, menciptakan situasi “impunitas absolut” bagi pemerintah Israel. Artinya, kekebalan hukum sepenuhnya.
Bukan Sekedar Kritik Sembarangan
Nah, yang menarik, Bardem selalu berusaha membuat garis pemisah yang jelas. Kritiknya, menurutnya, bukan ditujukan pada orang Yahudi atau Yahudi secara keseluruhan. Sasaran utamanya adalah pemerintah Israel, khususnya kabinet Netanyahu yang ia sebut sebagai yang “paling radikal” dalam sejarah negara itu.
Posisinya ini bukan cuma omongan belaka. Menjelang akhir 2025, ia memutuskan untuk bergabung dengan gerakan yang lebih luas. Bersama lebih dari 1.300 pekerja film lainnya, ia berjanji untuk memboikot lembaga dan perusahaan yang dianggap mendukung atau membenarkan apa yang mereka definisikan sebagai genosida dan apartheid di Gaza.
Jadi, ini bukan sekadar aksi satu-dua kali. Ini konsistensi. Di tengah hiruk-pikuk Hollywood, suaranya tetap lantang dan jelas, meski kontroversial. Ia memilih karpet merah bukan hanya untuk berpamer, tapi juga untuk berprotes.
Artikel Terkait
Pria di Makassar Ditangkap Usai Aniaya Istri dengan Kipas Angin
Mentan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam 5 Tahun, Jadikan NTB Sentra Utama
Timnas Indonesia U-17 Dibantai China 0-7 dalam Uji Coba Pahit
Thomas Aquinas Dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia