Natal 25 Desember: Menguak Akar Kontroversi di Balik Perayaan

- Selasa, 23 Desember 2025 | 08:00 WIB
Natal 25 Desember: Menguak Akar Kontroversi di Balik Perayaan
Diskusi Natal: Antara Tradisi dan Kontroversi

Pada suatu Senin di akhir tahun, tepatnya 22 Desember 2025, ruang diskusi di Kantor Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia tampak hidup. Topiknya cukup menggelitik: perayaan Natal 25 Desember. Dua pembicara ahli Kristologi, Abu Deedat Syihab dan Nevy Amaliyah Nanlohy, hadir untuk membeberkan sederet fakta yang bagi banyak orang mungkin masih asing.

Inti pembahasannya sederhana, tapi dampaknya luas. Peringatan Natal setiap 25 Desember itu sendiri, ternyata, sarat kontroversi. Bahkan di kalangan internal Kristen, penolakan terhadap tanggal ini bukan hal baru. Alasannya mendasar: Alkitab sama sekali bungkam soal tanggal kelahiran Yesus. Coba cek Injil Matius atau Lukas. Keduanya memang menceritakan peristiwa kelahirannya dengan indah, tapi soal kapan? Tak ada petunjuk tanggal, bulan, atau musim tertentu.

Nah, kalau begitu dari mana asal-usul penetapan 25 Desember? Menurut sejumlah gereja dan teolog, ini bukanlah ajaran yang berasal dari Yesus atau para rasulnya. Keputusan ini muncul berabad-abad setelahnya, hasil dari dinamika gereja pada masa itu. Faktanya, umat Kristen awal justru tidak punya tradisi merayakan hari kelahiran Sang Juru Selamat. Fokus utama mereka waktu itu lebih pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus.

Beberapa suara kritik bahkan datang dari dalam tubuh Kristen sendiri. Ambil contoh Pendeta Alexander Hislop, penulis buku "The Two Babylons". Ia dengan tegas menyebut perayaan Natal 25 Desember sebagai hasil asimilasi tradisi kafir Romawi. Bukan ajaran murni Kekristenan. Tokoh besar Baptis abad ke-19, Charles Spurgeon, juga punya pendapat senada. Baginya, Natal “tidak memiliki dasar Alkitabiah” dan lebih merupakan tradisi gerejawi belaka.

Pendeta Tom Smith dari Church of God, yang beraliran Evangelikal, menyampaikan poin yang sama dengan lugas.

"Jesus never told us to celebrate His birthday. The Bible records no command, no example, no date," ujarnya.

Artinya, Yesus tak pernah memerintahkan perayaan hari ulang tahun-Nya. Alkitab juga tak mencatat perintah, contoh, apalagi tanggal pastinya.

Sikap penolakan yang lebih terstruktur datang dari Saksi-Saksi Yehuwa. Di situs resminya, mereka terang-terangan menolak Natal.

"The Bible gives no support for celebrating Christmas, and many of its customs have pagan origins," tulis pernyataan resmi mereka.

Alkitab, menurut mereka, tidak mendukung perayaan Natal. Lagipula, banyak tradisinya berakar dari paganisme.

Di Indonesia, kita bisa melihat contoh nyata pada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Mereka tidak menyelenggarakan perayaan Natal pada 25 Desember seperti umumnya. Alasannya konsisten: karena Alkitab tidak menetapkan tanggalnya. Dr. HI Misa, seorang pendeta Advent, menjelaskan bahwa mereka tetap menyadari spiritualitas kelahiran Yesus, namun menolak ikut-ikutan merayakan tanggal yang dianggapnya tidak alkitabiah.

Selain Advent, sebenarnya ada beberapa komunitas Kristen lain yang bersikap kritis. Misalnya, Iglesia ni Cristo (INC) yang meski berasal dari Filipina, punya pengikut di sini. Mereka juga tidak merayakan Natal. Begitu pula beberapa jemaat dalam lingkungan Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang memilih pendekatan lebih hati-hati.

Lalu, ada pertanyaan lain yang menarik. Kapan sebenarnya Yesus lahir? Injil Lukas memberi petunjuk kecil: para gembala sedang berjaga di padang rumput saat malam hari. Coba bayangkan iklim Palestina. Pada Desember yang dingin dan bersalju, sangat tidak masuk akal para gembala membiarkan ternaknya bermalam di padang terbuka.

Pendeta dan pakar Alkitab Adam Clarke, dalam "Commentary on the Bible"-nya, berpendapat sama.

"It is very unlikely that Christ was born in December… the shepherds could not have been watching their flocks in the open fields at that time," tulisnya.

Jadi, sangat tidak mungkin Kristus lahir di bulan Desember. Para gembala pasti tidak akan menjaga kawanan domba di padang terbuka saat musim itu.

Lantas, mengapa 25 Desember yang akhirnya dipilih? Di sinilah sejarah agama bicara. Sejarawan banyak yang menunjuk pada dua perayaan Romawi kuno: Saturnalia dan Dies Natalis Solis Invicti, atau hari kelahiran Dewa Matahari. Perayaan ini jatuh di sekitar titik balik matahari musim dingin, saat siang hari mulai bertambah panjang dan matahari seolah 'lahir kembali'.

Ini strategi gereja awal. Ketika Kekristenan menjadi agama resmi Romawi di abad ke-4, mereka dihadapkan pada tradisi pagan yang sudah mengakar. Daripada menghapusnya yang pasti sulit, lebih baik mengalihkan maknanya. Proses asimilasi pun terjadi. Perayaan untuk dewa matahari 'dibaptis' menjadi perayaan untuk 'Terang Dunia', yaitu Yesus Kristus.

Namun begitu, strategi ini tidak diterima semua kalangan. Aliran-aliran Kristen yang berpegang teguh pada prinsip "sola scriptura" hanya Alkitab sebagai pedoman sering menolak keras. Bagi mereka, seperti Saksi-Saksi Yehuwa atau Gereja Tuhan (Church of God), Natal 25 Desember adalah bid'ah. Sebuah pencampuradukkan iman dengan ritual pagan yang seharusnya dijauhi.

Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?

Dalam Islam, Nabi Isa 'alaihissalam adalah sosok nabi yang sangat dimuliakan. Kisah kelahirannya bahkan diceritakan dalam Al-Qur'an dengan detail yang menakjubkan, termasuk saat Maryam melahirkan di bawah pohon kurma. Namun, Islam sama sekali tidak menetapkan tanggal kelahiran beliau, dan juga tidak menjadikannya sebagai hari raya. Jadi, bagi umat Islam, Natal dilihat sebagai ritual keagamaan umat Kristen dengan dimensi teologisnya sendiri, bukan bagian dari ajaran Islam.

Menyikapi hal ini, Buya Hamka semasa menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (1981) pernah mengeluarkan fatwa yang jelas. Beliau mengharamkan keikutsertaan umat Islam dalam perayaan Natal. Alasannya, Natal adalah bentuk ibadah umat Kristen. Fatwa MUI era Buya Hamka itu hingga kini masih menjadi rujukan banyak kalangan.

Di sisi lain, Wakil Menteri Agama kala itu, Romo Syafii, juga punya pandangan serupa. Menurutnya, Natal adalah perayaan khusus umat Kristiani. Bukan perayaan lintas agama. Karena itu, beliau menyarankan umat Islam untuk tidak ikut-ikutan merayakannya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Nuim Hidayat
Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Komentar