Di tengah situasi yang tak kunjung reda, Patriark Latin Pierbattista Pizzaballa memimpin perayaan misa Natal. Lokasinya di Gereja Keluarga Kudus, wilayah Gaza timur. Suasana hening, jauh dari kemeriahan biasa.
Doa-doa khusus pun dilantunkan. Suaranya terdengar jelas, mengisi ruang gereja yang mungkin menjadi satu-satunya tempat teduh bagi sebagian orang di sana. Ini terjadi dalam konteks yang berat, di mana kekerasan dan duka masih menyelimuti Gaza.
Menurut sejumlah laporan, perayaan ini berlangsung sederhana. Sangat sederhana. Namun kehadiran Pizzaballa di lokasi itu sendiri sudah menyampaikan pesan yang lebih dalam tentang solidaritas dan ketahanan iman di tengah kepedihan yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida yang terus berlanjut.
Rekaman video dari misa tersebut beredar, menunjukkan momen itu. Gambar-gambarnya berbicara lebih lantang daripada kata-kata. Wajah-wajah jemaat, tatapan mereka, dan latar belakang gereja yang sederhana menceritakan sebuah kisah yang kompleks tentang harapan di ujung jurang keputusasaan.
Di sisi lain, langkah Pizzaballa ini bukan kali pertama. Dia kerap menyuarakan perdamaian dan mengutuk kekerasan yang menimpa warga sipil, tanpa memandang latar belakang mereka. Tindakannya di Gaza timur hari itu seperti sebuah pernyataan nyata: bahwa di manapun, dalam kondisi apapun, ruang untuk kemanusiaan dan spiritualitas harus tetap dijaga.
Artikel Terkait
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini, Sinyal Damai Muncul di Tengah Konflik
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang