“Sebagian besar kasus bunuh diri disebabkan oleh realitas kompleks yang muncul setelah perang. Ada konsekuensi psikologis sulit yang harus dihadapi tentara dalam kehidupan sehari-hari mereka yang tidak lagi sama,”
begitu penjelasan seorang pejabat militer Israel, seperti dikutip dalam laporan.
Di sisi lain, dunia internasional melihat fenomena ini dari dimensi yang lebih luas. Bagi banyak pengamat, krisis mental di tubuh militer Israel adalah bukti nyata betapa perang yang mengabaikan nilai kemanusiaan pada akhirnya bersifat destruktif bagi semua pihak. Kecaman global yang selama ini menyoroti tragedi di Gaza dengan korban jiwa warga sipil yang mencapai puluhan ribu kini juga melihat sisi lain dari mata uang yang sama.
Intinya sederhana namun pahit: tidak ada pemenang sejati di sini. Di satu sisi, warga sipil Palestina menjadi korban fisik yang paling menderita. Sementara di barisan seberang, para tentara Israel justru terjebak dalam lingkaran trauma yang berujung pada kehancuran diri mereka sendiri. Kegagalan untuk menghentikan pertikaian tak hanya merenggut nyawa lawan, tapi perlahan-lahan juga menggerogoti jiwa dari dalam.
Perang, pada akhirnya, menghancurkan segala-galanya.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal
Kim Jong Un Kembali Pimpin Korea Utara, Kim Yo Jong Tak Masuk Komisi Urusan Negara
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Sebagian Besar Sulawesi Selatan
Tanjung Pallette Ramai Pengunjung Saat Libur Lebaran, Namun Angka Turun Dibanding Tahun Lalu