MURIANETWORK.COM - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menerima kunjungan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/2/2026). Pertemuan bilateral ini difokuskan untuk memperkuat kemitraan strategis kedua negara, dengan puncak agenda berupa penandatanganan Traktat Keamanan Bersama Indonesia-Australia serta sejumlah kesepakatan kerja sama lainnya.
Penyambutan Kenegaraan di Istana Merdeka
Kedatangan Perdana Menteri Albanese disambut dengan protokol kenegaraan lengkap. Setibanya sekitar pukul 09.00 WIB, iring-iringan kendaraan tamu negara dikawal ketat oleh pasukan patroli berkendara motor dan pasukan berkuda. Di gerbang utama istana, PM Albanese disambut barisan pasukan kehormatan sebelum kemudian disambut langsung oleh Presiden Jokowi. Sebelum memasuki istana, kedua pemimpin menyaksikan pertunjukan Tari Naikonos Lari dari Nusa Tenggara Timur, menambah nuansa budaya dalam penyambutan resmi tersebut.
Upacara penyambutan resmi dilanjutkan dengan pengibaran lagu kebangsaan kedua negara dan perkenalan delegasi. Dari pihak Indonesia, hadir sejumlah pejabat tinggi negara antara lain Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
Pertemuan Tertutup dan Penandatanganan Kerja Sama
Setelah rangkaian upacara, Presiden Jokowi dan PM Albanese menggelar pertemuan tertutup atau tête-à-tête di ruang kepresidenan. Inti dari kunjungan kerja ini kemudian berlanjut ke ruang oval Istana Merdeka, tempat kedua pemimpin menandatangani berbagai dokumen kerja sama bilateral. Traktat Keamanan Bersama menjadi sorotan utama dari kesepakatan yang dicapai.
Menurut rilis resmi Kedutaan Besar Australia di Jakarta, traktat tersebut dirancang untuk mencerminkan kedalaman persahabatan dan kemitraan antara kedua negara.
"Traktat ini mencerminkan persahabatan, kemitraan, dan kepercayaan yang mendalam antara Australia dan Indonesia," jelas pernyataan tersebut. "Hal ini akan membawa kerja sama Australia-Indonesia ke tingkat yang baru, demi keamanan kawasan kedua negara."
Kunjungan selama tiga hari (5-7 Februari 2026) ini merupakan kunjungan kedua PM Albanese ke Istana Merdeka, menandakan intensitas dialog tinggi antara Jakarta dan Canberra. Pertemuan sebelumnya berlangsung pada Mei 2025, yang kemudian diikuti kunjungan balasan Presiden Jokowi ke Australia pada November di tahun yang sama.
Memperluas Cakupan Kemitraan Strategis
Selain isu keamanan regional yang menjadi prioritas, pertemuan ini juga membahas perluasan kerja sama di berbagai sektor vital. PM Albanese, yang didampingi Menteri Luar Negeri Penny Wong, menyatakan komitmen Australia untuk memperdalam kolaborasi dengan Indonesia. Fokusnya tidak hanya pada politik dan keamanan, tetapi juga pada penguatan hubungan ekonomi melalui perdagangan dan investasi, serta kerja sama di bidang pendidikan dan pembangunan. Langkah ini dipandang oleh pengamat hubungan internasional sebagai upaya konkret untuk membangun stabilitas dan kemakmuran bersama di kawasan Indo-Pasifik.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono Penuhi Panggilan Klarifikasi Polisi Soal Materi Stand-Up Comedy Mens Rea
Korlantas Tinjau Kesiapan Rest Area Tol Jelang Puncak Mudik Lebaran 2026
Presiden Prabowo Minta Maaf Tak Bisa Jemput PM Australia di Bandara
Satgas Pangan Perketat Pengawasan Harga dan Mutu Jelang Hari Besar Keagamaan