Ia meyakini, jembatan ini akan menjadi akselerator bagi perekonomian masyarakat pesisir Riau.
Namun, Proyek Ini Tak Lepas dari Sorotan
Di Malaysia sendiri, rencana megah ini justru menuai kritik pedas. Salah satu suara paling keras datang dari Ketua oposisi Melaka, Yadzil Yaakub. Ia mempertanyakan serius tujuan dan kelayakan proyek ini.
“Kenyataannya, belanja pemerintah Melaka sangat bergantung pada bantuan Putrajaya. Jika untuk memperbaiki jalan negara bagian saja kita memerlukan bantuan federal, bagaimana mungkin kita mendanai pembangunan jembatan yang melintasi Selat Malaka?” kata Yadzil.
Yadzil juga meragukan manfaat ekonominya. Menurutnya, wilayah Indonesia yang akan dihubungkan, yaitu Dumai, bukanlah pusat ekonomi utama. Alhasil, imbal hasil yang bisa diraih Melaka kemungkinan besar sangat minim.
“Dan jika konsesi itu gagal, pemerintah pada akhirnya akan dipaksa menyelamatkan proyek tersebut dengan dana publik. Dalam semua skenario, rakyatlah yang menjadi korban,” tegasnya.
Jadi, meski di atas kertas terlihat menjanjikan, jalan menuju terwujudnya jembatan Melaka-Dumai masih panjang dan berliku. Antara harapan akan konektivitas baru dan kekhawatiran akan beban finansial, perdebatan tampaknya masih akan terus berlanjut.
Artikel Terkait
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini, Sinyal Damai Muncul di Tengah Konflik
Bapanas Pantau Pasar Makassar, Harga Pangan Pokok Kembali Stabil
ASDP Tunda Pengalihan Lintasan Penyeberangan ke Siwa-Kolaka Sampai 10 April 2026
Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Tiba di Rumah Duka di Pondok Pinang