"Pada masa SBY, negara tidak gengsi. Bantuan dari negara lain diterima karena yang dipikirkan adalah nyawa manusia," ujar Rahman.
"Sekarang justru sebaliknya. Ada kesan menutup diri dan menolak bantuan internasional."
Baginya, sikap seperti itu sungguh tak mencerminkan empati. Di tengah situasi darurat, politik dan pencitraan seharusnya dikesampingkan. Nyatanya, menurut pengamatannya, hal itu justru yang terjadi.
"Bencana bukan panggung kekuasaan," katanya dengan nada kecewa.
"Ketika rakyat menderita, yang dibutuhkan adalah empati, kecepatan, dan keterbukaan. Jika itu tidak dilakukan, maka wajar jika publik menilai Presiden Prabowo gagal total."
Di akhir kritiknya, Rahman mendesak sebuah evaluasi menyeluruh. Sistem mitigasi dan penanganan bencana nasional, ia nilai, harus segera dibenahi. Tak ada salahnya pula membuka ruang bagi kerja sama internasional. Tujuannya cuma satu: mempercepat pemulihan bagi saudara-saudara di Sumatra yang sedang terluka.
Artikel Terkait
Serdam Berkibar: Pusat Kuliner Baru Resmi Diresmikan, Dukung 180 UMKM Kubu Raya
Ramalan Wanda Hamidah di Pilpres 2014: Dulu Ditertawakan, Kini Makin Nyata
Tiga Dekade Menggelinding, Khambec C70 Pontianak Rayakan Ikatan Lintas Generasi
Muatan Besi Tiga Ton Tewaskan Sopir dan Kernet di Cilincing