"Pada masa SBY, negara tidak gengsi. Bantuan dari negara lain diterima karena yang dipikirkan adalah nyawa manusia," ujar Rahman.
"Sekarang justru sebaliknya. Ada kesan menutup diri dan menolak bantuan internasional."
Baginya, sikap seperti itu sungguh tak mencerminkan empati. Di tengah situasi darurat, politik dan pencitraan seharusnya dikesampingkan. Nyatanya, menurut pengamatannya, hal itu justru yang terjadi.
"Bencana bukan panggung kekuasaan," katanya dengan nada kecewa.
"Ketika rakyat menderita, yang dibutuhkan adalah empati, kecepatan, dan keterbukaan. Jika itu tidak dilakukan, maka wajar jika publik menilai Presiden Prabowo gagal total."
Di akhir kritiknya, Rahman mendesak sebuah evaluasi menyeluruh. Sistem mitigasi dan penanganan bencana nasional, ia nilai, harus segera dibenahi. Tak ada salahnya pula membuka ruang bagi kerja sama internasional. Tujuannya cuma satu: mempercepat pemulihan bagi saudara-saudara di Sumatra yang sedang terluka.
Artikel Terkait
ICW Desak KPK Jelaskan Alasan Pengalihan Tahanan Yaqut ke Rumah
KPK Tegaskan Semua Tahanan Berhak Ajukan Tahanan Rumah, Termasuk Yaqut
Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz
160 Warga Binaan di Makassar Terima Remisi Idul Fitri, Tiga Langsung Bebas