Rumah kayu itu berdiri sendiri di atas lahan rawa. Di sanalah Fitri, remaja 15 tahun, menghabiskan hari-harinya seorang diri. Sudah tiga tahun berlalu sejak neneknya meninggalkannya di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sejak itu, ia benar-benar hidup sendiri.
Orang tuanya? Tak ada yang tahu kabarnya. Fitri tumbuh besar dalam asuhan sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia kenal. Rumah sederhana yang ia tinggali sekarang adalah peninggalan neneknya. Untungnya, ada saudara yang rumahnya tak jauh, dan mereka kerap membantu Fitri menjalani keseharian.
Namun begitu, rutinitasnya sebagai pelajar tak pernah ia tinggalkan. Fitri tetap berseragam dan berangkat ke SMPN 1 Sungai Tabuk setiap pagi, persis seperti remaja seusianya.
Sepulang sekolah, bukan waktu bermain yang ia dapat. Fitri langsung beralih peran, membantu membungkus roti di rumah salah seorang warga. Dari kerja kecil itu, ia mendapat upah dua puluh ribu rupiah per hari. Uang itulah yang menjadi tulang punggungnya untuk bertahan hidup.
“Karena dulu sahur dan buka puasa bersama nenek. Sekarang kalau kangen nenek, saya ziarah ke makam nenek,” tuturnya.
Ia mengakui, kesunyian adalah hal yang paling terasa. Dulu ada obrolan, ada kebersamaan saat makan dan sebelum tidur. Kini, hanya sunyi yang menemani. Rindu itu makin menjadi-jadi saat Ramadan tiba, terutama di tahun-tahun pertama kepergian neneknya.
Di usia lima belas tahun, tentu ada keinginan untuk bersenang-senang. Ingin main seperti teman-teman lain. Tapi Fitri tahu, keadaan memaksanya untuk mengubur keinginan itu dalam-dalam. Meski begitu, kadang ada secercah keceriaan saat teman-temannya mampir.
Artikel Terkait
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL
Polairud Buka Jalur Pelayaran Muara Angke yang Tersumbat
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi