Kisah Fitri: Bertahan di Atas Rawa, Menghidupi Mimpi di Tengah Sunyi

- Selasa, 16 Desember 2025 | 11:48 WIB
Kisah Fitri: Bertahan di Atas Rawa, Menghidupi Mimpi di Tengah Sunyi

Rumah kayu itu berdiri sendiri di atas lahan rawa. Di sanalah Fitri, remaja 15 tahun, menghabiskan hari-harinya seorang diri. Sudah tiga tahun berlalu sejak neneknya meninggalkannya di Desa Sungai Tabuk Keramat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sejak itu, ia benar-benar hidup sendiri.

Orang tuanya? Tak ada yang tahu kabarnya. Fitri tumbuh besar dalam asuhan sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia kenal. Rumah sederhana yang ia tinggali sekarang adalah peninggalan neneknya. Untungnya, ada saudara yang rumahnya tak jauh, dan mereka kerap membantu Fitri menjalani keseharian.

Namun begitu, rutinitasnya sebagai pelajar tak pernah ia tinggalkan. Fitri tetap berseragam dan berangkat ke SMPN 1 Sungai Tabuk setiap pagi, persis seperti remaja seusianya.

Sepulang sekolah, bukan waktu bermain yang ia dapat. Fitri langsung beralih peran, membantu membungkus roti di rumah salah seorang warga. Dari kerja kecil itu, ia mendapat upah dua puluh ribu rupiah per hari. Uang itulah yang menjadi tulang punggungnya untuk bertahan hidup.

“Karena dulu sahur dan buka puasa bersama nenek. Sekarang kalau kangen nenek, saya ziarah ke makam nenek,” tuturnya.

Ia mengakui, kesunyian adalah hal yang paling terasa. Dulu ada obrolan, ada kebersamaan saat makan dan sebelum tidur. Kini, hanya sunyi yang menemani. Rindu itu makin menjadi-jadi saat Ramadan tiba, terutama di tahun-tahun pertama kepergian neneknya.

Di usia lima belas tahun, tentu ada keinginan untuk bersenang-senang. Ingin main seperti teman-teman lain. Tapi Fitri tahu, keadaan memaksanya untuk mengubur keinginan itu dalam-dalam. Meski begitu, kadang ada secercah keceriaan saat teman-temannya mampir.

“Kadang teman-teman sehabis pulang mengaji mampir ke sini, walau sebentar,” katanya.

Saat itulah rumahnya yang biasanya hening, menjadi sedikit lebih ramai dan hangat.

Rumah di Atas Rawa Kerap Banjir

Selain kesendirian, ada satu lagi kekhawatiran yang terus menghantui: banjir. Lokasi rumahnya di atas rawa membuatnya waspada setiap kali langit mendung. Hujan deras berarti air akan naik, menggenangi lantai kayu rumahnya.

Bahkan di malam hari, Fitri kerap terbangun. Ia harus memastikan barang-barangnya aman dari genangan yang merayap masuk.

“Karena kasurnya kecil dan tidak berat, biasanya saya angkat kalau air naik,” ujarnya, menggambarkan kewaspadaan sehari-harinya.

Di tengah semua keterbatasan itu, semangat Fitri tak pernah padam. Ia menjalani hidup dengan tabah. Baginya, hidup harus terus berjalan. Di depan sana, ada masa depan yang lebih cerah menunggu untuk diraih. Itulah harapan yang membuatnya tetap tegar.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler