Pergerakan harga komoditas di awal tahun 2026 tampaknya belum menemukan arah yang pasti. Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, 2 Januari, pasar mencatat pergerakan yang beragam. Ada yang melemah, ada pula yang justru mencoba menguat.
Minyak mentah, misalnya, tampak lesu. Menurut pantauan Reuters pada Senin (5/1), harga minyak Brent anjlok 10 sen ke posisi USD 60,75 per barel. Nasib serupa dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat, yang juga terpangkas 10 sen menjadi USD 57,32 per barel.
Lalu, bagaimana dengan komoditas lainnya? Rupanya, sentimen negatif juga terasa di beberapa sektor.
CPO
Harga minyak sawit mentah atau CPO untuk kontrak Februari tercatat turun cukup signifikan, tepatnya 1,36 persen. Data dari Barchart per Jumat itu menempatkan harganya di level MYR 3.980 per ton.
Batu Bara
Sementara itu, batu bara ikut terseret. Harga berjangka Newcastle untuk kontrak yang sama merosot 0,80 persen. Akibatnya, nilainya kini berada di angka USD 105,50 per ton.
Tapi nggak semua komoditas bernasib sama. Di tengah pelemahan yang merata, ada satu yang justru bersinar.
Nikel
Ya, nikel berhasil mencatatkan kenaikan. Berdasarkan data London Metal Exchange, logam ini naik 1,05 persen dan menguat ke level USD 16.820 per ton. Kenaikan ini jadi penyeimbang di tengah tekanan yang melanda komoditas energi.
Timah
Sayangnya, sentimen positif dari nikel tidak menular ke logam dasar lainnya. Timah justru kembali terperosok, meski penurunannya tak terlalu dalam. Harganya turun 0,36 persen, sehingga sekarang bertengger di USD 40.409 per ton.
Secara keseluruhan, pekan pertama di tahun baru ini diwarnai ketidakpastian. Pasar sepertinya masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum menentukan tren jangka panjangnya.
Artikel Terkait
BEI Cabut Suspensi Perdagangan Lima Saham Usai Emiten Lunasi Kewajiban
Bank Mandiri Catat Laba Rp18,6 Triliun di Triwulan IV-2025, Melampaui Proyeksi Pasar
Ramadan Bukan Alasan Boros, Ini 5 Tips Kelola Keuangan
TRON Diversifikasi ke Infrastruktur Kendaraan Listrik Usai RUPSLB