Di Balik Deru Pesawat, Warga Kelaparan Menanti Bantuan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 05:20 WIB
Di Balik Deru Pesawat, Warga Kelaparan Menanti Bantuan

✍🏻 Misb Jannah

Bantuan dari pemer!ntah baru sampai di daerah kami setelah sepuluh hari berlalu. Padahal, lokasi kami ini dekat sekali dengan bandara. Cuma dipisah kampung sebelah saja. Bahkan, sebagian kecil lahan bandara itu masuk wilayah kampungku. Setiap hari, kami melihat pesawat dan helikopter hilir mudik di langit.

Mungkin karena lokasi yang strategis itu, sebelum bantuan resmi tiba, sudah banyak komunitas, lembaga, dan publik figur yang lebih dulu mengirimkan bantuan. Alhamdulillah, kami tidak sampai kelaparan.

Tapi coba bayangkan nasib daerah lain yang terisolasi. Akses jalan mereka masih lumpuh total.

Menahan lapar selama sepuluh hari? Itu berat sekali. Makan apa pun yang ada demi bertahan hidup. Kita yang dewasa mungkin masih bisa bertahan, insyaAllah. Asal bisa dimakan, ya dimakan. Tapi bagaimana dengan bayi? Atau anak-anak kecil? Dan para lansia?🥺

Aku paling tidak tega kalau sudah menyangkut anak-anak dan orang tua. Pasti langsung mewek. Soalnya, aku pernah mengalaminya sendiri: anakku kelaparan hampir 30 jam terjebak di tengah banjir. Rasanya sesak sekali, nyesek di dada.

Aku paham, para pekerja lapangan yang menyalurkan bantuan pasti sudah kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi, kok bisa sedemikian lambatnya?

Menurut sejumlah saksi, ada warga di daerah pegunungan yang terpaksa turun jalan kaki. Mereka menyusuri jalan penuh lumpur hanya untuk menjual sayuran. Hasilnya dibelikan beras untuk anak dan istri yang menunggu di rumah.

Coba bayangkan. Mereka berjalan puluhan kilometer. Aku pernah ke sana, naik motor saja badan rasanya pegal semua karena jauh dan jalannya terjal. Apalagi mereka yang berjalan kaki.🥲

Belum lagi kabar dari Aceh Tamiang. Kondisi di sana sudah benar-benar kritis, warga kelaparan. Ayolah, pemer!ntah. Masak tega sekali membiarkan rakyatnya menderita begini.🥺

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar