Hati yang Busuk Melihat Musibah sebagai Hukuman, Bukan Ujian

- Kamis, 11 Desember 2025 | 11:40 WIB
Hati yang Busuk Melihat Musibah sebagai Hukuman, Bukan Ujian

โœ๐Ÿป Abdul Wahab Ahmad

Begini, kalau hati sudah busuk, apa yang dilihat mata ya kebusukan di mana-mana. Gambar ini cuma satu contoh kecilnya.

Nah, soal musibah, sebenarnya ada dua jenis.

Pertama, musibah sebagai ujian. Ini seperti yang disabdakan Nabi.

ุนูŽู†ู’ ู…ูุตู’ุนูŽุจู ุจู’ู†ู ุณูŽุนู’ุฏู ุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ยซู‚ูู„ู’ุชู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ูุŒ ุฃูŽูŠู‘ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽุดูŽุฏู‘ู ุจูŽู„ูŽุงุกู‹ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุซูŽู„ูยป ููŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุซูŽู„ูุŒ ููŽูŠูุจู’ุชูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุณูŽุจู ุฏููŠู†ูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฏููŠู†ูู‡ู ุตูู„ู’ุจู‹ุง ุงุดู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ุจูŽู„ูŽุงุคูู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุฏููŠู†ูู‡ู ุฑูู‚ู‘ูŽุฉูŒ ุงุจู’ุชูู„ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญูŽุณูŽุจู ุฏููŠู†ูู‡ูุŒ ููŽู…ูŽุง ูŠูŽุจู’ุฑูŽุญู ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุงุกู ุจูุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุชู’ุฑููƒูŽู‡ู ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฎูŽุทููŠุฆูŽุฉูŒ

Intinya, Rasulullah ditanya, siapa manusia yang paling berat cobaannya? Jawab beliau, para nabi, lalu orang-orang yang paling mirip dengan mereka, dan seterusnya. Seseorang diuji sesuai kekuatan agamanya. Kalau imannya kokoh, ujiannya bisa lebih berat. Tapi ujian itu akan terus menyertainya sampai ia dibiarkan berjalan di bumi tanpa membawa dosa sedikitpun. (HR. al-Tirmidzรฎ).

Kedua, musibah sebagai hukuman. Ini biasanya untuk orang-orang kafir di masa lampau, atau bisa juga karena dosa tertentu. Kisah-kisah umat terdahulu banyak yang seperti itu.

Lalu, gimana kita bedain? Mana yang ujian, mana yang hukuman?

Jujur saja, untuk memastikannya butuh seorang Nabi yang dapat wahyu. Tanpa itu, kita nggak bisa main hakim sendiri. Yang diajarkan Rasulullah justru sebaliknya: kita harus berprasangka baik kepada sesama muslim.

Malah, ada hadis yang jelas menyebutkan, muslim yang meninggal karena tenggelam atau tertimpa bangunan, itu mati syahid. Mereka diampuni dosanya dan masuk surga lewat pintu terbaik.

Jadi, kalau Anda belajar agama di lingkungan yang busuk, hati dan cara pandang Anda lama-lama ikut-ikutan busuk. Setiap melihat musibah menimpa muslim lain, yang muncul cuma prasangka buruk. Hilang empati, hilang rasa kasihan, hilang adab.

Cepat-cepat lah keluar dari tempat semacam itu. Sebelum semuanya terlambat.

(")

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar