Sutoyo Abadi Desak Prabowo: Sikat Penghianat dalam Kabinet

- Rabu, 10 Desember 2025 | 21:00 WIB
Sutoyo Abadi Desak Prabowo: Sikat Penghianat dalam Kabinet
Dorongan Menhan: Lawan, Bukan Sekadar Pernyataan Sikap

Dorongan Menhan, Sutoyo Abadi: Bukan Buat Pernyataan Sikap Tapi Lawan

Suasana di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa lalu, ternyata tak biasa. Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin, dalam kuliah umumnya, menyampaikan amarah dan kegelisahan yang tajam. Intinya sederhana tapi berat: ada musuh dalam selimut yang membahayakan negara. Dia bicara soal ketidaktaatan, birokrasi lambat, dan kebohongan yang harus dikoreksi. "Kita menghadapi musuh dalam selimut," begitu tegasnya, menandai nada pesan yang keras.

Menanggapi hal itu, Koordinator Kajian Politik Merah Putih, Sutoyo Abadi, punya pandangan yang lebih spesifik. Menurutnya, peringatan Menhan itu bukanlah isapan jempol belaka.

"Oligark yang merasa memiliki modal uang sangat besar hasil menjarah sumber ekonomi di Indonesia, dipastikan akan melawan," ujar Sutoyo, Rabu (10/12/2025).

Dia menyoroti ironi saat beberapa wilayah diterjang banjir. Alih-alih fokus menangani bencana, sebagian menteri yang dia sebut sebagai 'ternak oligarki' justru sibuk memainkan tipu daya. Tujuannya? Menyesatkan Presiden agar mengambil kebijakan yang keliru.

"Sejak awal Presiden Prabowo harus terus diingatkan. Ada musuh dalam selimut dari kabinetnya sendiri yang akan memakzulkan dirinya. Petanya sangat terang benderang siapa yang taat dan siapa yang terus bertingkah sebagai penghianat," sambungnya, tanpa tedeng aling-aling.

Sutoyo lalu mengungkit pertemuan antara Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Jokowi di Solo, 13 Oktober 2024. Menurutnya, ada tiga poin ancaman oligarki yang disampaikan kala itu.

Pertama, permintaan agar orang-orang tertentu masuk ke kabinet. Kedua, desakan untuk tidak mengganggu program oligarki yang katanya sudah dapat persetujuan dari pemimpin China, Xi Jinping. Dan yang ketiga, nada ancaman: jika dua poin sebelumnya diganggu, maka stabilitas ekonomi negara akan diobrak-abrik.

"Saat ini benar-benar terjadi," katanya dengan nada getir. "Mereka sudah menguasai dan menjarah hutan serta SDA. Ketika banjir bandang menelan korban, mereka tak peduli. Justru para menteri titipan itu berulah, melakukan sabotase dengan berbagai cara."

Di sisi lain, posisi para menteri ini dinilai sangat paradoks. Mereka seharusnya pembantu presiden, tapi malah berusaha mendelegitimasi dan meruntuhkan kekuasaannya lewat kebijakan yang merugikan rakyat. Status mereka, bagi Sutoyo, lebih sebagai 'ternak oligarki' daripada abdi negara.

Yang lebih memprihatinkan, ketika pemerintah hendak mengendalikan oligarki misalnya dalam penguasaan SDA dan hutan mereka justru dikabarkan 'melapor' ke Xi Jinping. Ini jelas urusan kedaulatan, tapi seolah ada pihak lain yang mesti diajak bicara dulu.

Bentuk sabotase lainnya, menurut Sutoyo, sudah berlangsung lama. "Membebaskan beban pajak bagi perampok sumber kekayaan negara, lalu memunculkan macam-macam pajak baru yang menekan rakyat kecil. Sampai nyasar ke pedagang kaki lima," ungkapnya.

Tak cuma itu. "Mereka mengusir dan merampas tanah rakyat, mematok laut. Mereka bebas membangun 'negara dalam negara'," jelasnya lagi.

Persoalan hidup sehari-hari rakyat pun dipersulit. Distribusi gas elpiji, BBM, sembako semua dibuat berbelit. Dan ketika rakyat bereaksi karena kesulitan hidup, oknum aparat justru bertindak beringas. "Hanya karena ingin dapat recehan dari bos pemilik angpao," tutur Sutoyo.

Kekacauan terus diciptakan. Bahkan di tengah bencana banjir, distribusi bantuan terasa hanya mengandalkan TNI dan relawan. "Pimpinan partai macam-macam tingkahnya, berperilaku menjijikan, malah pencitraan melulu," katanya geram.

Semua ini membuatnya yakin. Rekayasa sabotase justru datang dari dalam struktur pemerintahan sendiri. Wajar jika Menhan sampai marah besar. Ada musuh dari dalam kabinet yang nyata-nyata ingin mensabotase kekuasaan presiden.

Kembali ke kuliah umum di Unhas, Sutoyo mengutip pesan Menhan yang terdengar seperti seruan perjuangan. "Kalian mahasiswa boleh menyalahkan saya, tetapi kalian tidak boleh salah untuk masa depan Indonesia."

Pesan yang lebih tegas lagi: "Kalian harus lawan semua musuh dalam selimut (penghianat negara)." Maknanya jelas. Jangan cuma berhenti pada pernyataan sikap atau unjuk rasa simbolis. Tapi lawan.

Maka, pesan terakhir Sutoyo untuk Presiden Prabowo tegas: jangan ulangi kesalahan. "Sebelum mereka, para penghianat negara yang telah menjadi ternak oligark itu memakzulkan diri, demi kedaulatan dan keselamatan negara, mereka harus dibereskan dulu. Sikat, sebelum beraksi lebih jauh."

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar