Desi Suyamto, seorang peneliti yang masih aktif berkarya, punya pengalaman panjang di berbagai lembaga. Saat ini ia fokus di Pusat Ilmu Lingkungan IPB. Sebelumnya, jejaknya juga bisa dilacak di BIOTROP, World Agroforestry Center (ICRAF), dan CIFOR.
Banjir Sumatra: Menyalahkan Cuaca Saja Itu Mengabaikan Sains
Oleh: Desi Suyamto
Belakangan ini, ramai pemberitaan yang mengutip pernyataan pakar ilmu tanah IPB, Dr. Basuki Sumawinata. Ia menyebut banjir besar di Sumatra murni disebabkan hujan ekstrem dari siklon tropis. Bukan oleh perubahan tutupan lahan, dan bukan pula karena ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Argumen itu tentu punya dasar. Memang benar, siklon bisa memuntahkan hujan dengan intensitas luar biasa bahkan mencapai 300 hingga 400 milimeter hanya dalam tiga hari. Tapi, tunggu dulu. Penjelasan semacam ini rasanya baru menyentuh kulitnya saja, belum sampai ke inti persoalan yang sebenarnya.
Di satu sisi, meteorologi bilang hujan ekstrem adalah pemicu banjir. Namun begitu, hidrologi punya cerita lain. Banjir, dalam ilmu ini, adalah hasil percampuran rumit antara air hujan yang jatuh dan kondisi lanskap yang menerimanya. Saat lanskap itu rusak atau berubah, dampak dari hujan ekstrem itu sendiri bisa membengkak berkali-kali lipat. Jadi, klaim bahwa ekspansi sawit dan deforestasi "tidak relevan" dalam peristiwa banjir ekstrem, agaknya kurang sejalan dengan bukti-bukti ilmiah hidrologi masa kini.
Cuaca Bilang 'Berapa Banyak', Tapi Lanskap yang Tentukan 'Seberapa Parah'
Tak bisa dimungkiri, siklon tropis memang sanggup menghujani suatu daerah aliran sungai (DAS) melebihi kapasitas normalnya. Tapi, meteorologi tak pernah menjelaskan mengapa kerusakan banjir di satu tempat bisa jauh lebih dahsyat dibanding tempat lain, padahal hujannya sama deras.
Nah, di sinilah hidrologi berbicara. Respons sebuah DAS terhadap hujan lebat ditentukan oleh banyak hal: kondisi tutupan lahannya, kemampuan tanah menyerap air, ada tidaknya hutan dengan struktur akarnya, tingkat erosi, dan seberapa besar gangguan di wilayah hulu.
Bukti klasik dan sangat berpengaruh datang dari studi Bosch dan Hewlett di tahun 1982 sebuah artikel yang sudah dikutip ribuan kali. Mereka menunjukkan, perubahan vegetasi secara konsisten mengubah siklus air. Saat hutan diganti lahan terbuka atau perkebunan monokultur, air akan bergerak lebih cepat ke sungai dan meningkatkan debit puncak. Artinya, curah hujan ekstrem dan kondisi lanskap adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Dari Pemicu Jadi Penguat: Ketika Lanskap yang Rusak Memperbesar Bencana
Penelitian global berulang kali membuktikan, deforestasi memperbesar risiko banjir apa pun pemicu awalnya.
Ambil contoh studi Bradshaw dkk. (2007) di Global Change Biology. Dengan menganalisis data dari 56 negara, mereka menemukan hilangnya hutan secara signifikan meningkatkan frekuensi, durasi, dan tingkat keparahan banjir. Negara berkembang seperti Indonesia termasuk yang paling merasakan dampaknya.
Sementara itu, tinjauan komprehensif Brown dkk. (2005) terhadap puluhan studi menunjukkan pola yang konsisten: pembukaan hutan meningkatkan debit puncak, mempercepat aliran permukaan, dan memicu erosi.
Intinya, ketika hutan hilang, banjir jadi makin menjadi karena beberapa hal. Infiltrasi tanah menurun, sehingga lebih banyak air yang lari menjadi limpasan permukaan. Debit puncak sungai membesar, memicu banjir bandang. Sedimen dan puing-puing pun mudah hanyut, memperparah kerusakan di hilir.
Jadi, menyimpulkan perubahan tutupan lahan tidak relevan, agaknya melompati terlalu banyak bukti ilmiah yang ada.
Fakta Kunci: Hutan Bukan Perisai Ajaib, Tapi Peredam yang Andal
Ada argumen yang kerap muncul: "Bahkan hutan pun tak akan sanggup menahan hujan 400 mm dalam tiga hari." Memang betul. Namun begitu, pernyataan itu tidak lantas berarti deforestasi dan alih fungsi lahan bisa diabaikan begitu saja.
Kajian Ellison dkk. (2012) menunjukkan hutan punya tiga fungsi kunci saat hujan ekstrem datang: meningkatkan infiltrasi, memperlambat aliran air, dan mengendalikan erosi. Ketika fungsi-fungsi ini hilang, dua DAS yang dihujani dengan intensitas sama bisa menghasilkan dampak banjir yang sangat berbeda.
Jadi, benar bahwa hutan bukan solusi mutlak. Tapi keliru jika berkesimpulan kondisi tutupan lahan tidak berpengaruh sama sekali.
Norma Saintifik: Jangan Sederhanakan yang Kompleks
Membuat klaim tegas bahwa sawit atau deforestasi tidak berperan dalam bencana banjir seharusnya dilandasi analisis mendalam. Mulai dari data tutupan lahan puluhan tahun, pemodelan hidrologi, kajian sedimentasi, hingga data hidrograf sungai. Tanpa itu, klaim tersebut berisiko menjadi penyederhanaan yang berbahaya, atau bahkan mencerminkan bias tertentu sesuatu yang bertentangan dengan semangat ketidakberpihakan dalam ilmu pengetahuan.
Dalam ranah kebijakan publik, memandang banjir ekstrem semata sebagai persoalan cuaca juga berisiko. Pendekatan seperti ini mengabaikan peluang untuk memperbaiki tata kelola daerah hulu, yang justru secara ilmiah terbukti bisa menekan risiko bencana.
Ke Depan: Kolaborasi Meteorologi dan Ekologi dalam Kebijakan
Riset-riset bereputasi memberi kita pelajaran penting. Pertama, hutan memang tidak menghapus risiko banjir, tapi secara konsisten meredam dampaknya. Kedua, perubahan penggunaan lahan berdampak terukur pada siklus air dan erosi. Ketiga, saat hujan ekstrem datang, kondisi DAS-lah yang menentukan skala kerusakan. Keempat, pengelolaan DAS yang baik adalah bagian dari adaptasi perubahan iklim.
Oleh karena itu, kebijakan mitigasi banjir di Indonesia harus berjalan pada dua rel sekaligus. Kita harus beradaptasi terhadap hujan ekstrem yang makin sering akibat perubahan iklim. Di sisi lain, kita juga harus serius memulihkan kapasitas ekologis DAS lewat konservasi, rehabilitasi lahan, dan penegakan tata ruang. Mengabaikan salah satunya hanya akan menghasilkan kebijakan yang pincang.
Penutup: Banjir Besar Tak Pernah Cuma Soal Cuaca
Kesimpulannya, bukti ilmiah dari hidrologi internasional cukup jelas. Hujan ekstrem adalah pemicu, tapi kondisi lanskaplah yang menentukan apakah peristiwa itu berakhir sebagai banjir biasa atau berubah menjadi bencana besar.
Diskusi publik tentang banjir di Sumatra sebaiknya tidak berhenti pada analisis siklon tropis semata. Jika ingin mengurangi risiko bencana di masa depan, perbaikan tutupan lahan, konservasi hutan, dan penataan DAS harus jadi bagian tak terpisahkan dari strategi nasional.
Meteorologi mungkin memberi kita bab pembuka cerita. Namun, kondisi di hulu sungai dan bagaimana kita mengelolanya, itulah yang akan menulis akhir dari kisah tersebut.
Referensi:
Bosch, J. M., & Hewlett, J. D. (1982). A review of catchment experiments to determine the effect of vegetation changes on water yield and evapotranspiration. Journal of Hydrology, 55, 3–23.
Bradshaw, C. J. A., Sodhi, N. S., Peh, K. S.-H., & Brook, B. W. (2007). Global evidence that deforestation amplifies flood risk and severity in the developing world. Global Change Biology, 13(11), 2379–2395.
Brown, A. E., Zhang, L., McMahon, T. A., Western, A. W., & Vertessy, R. A. (2005). A review of paired catchment studies for determining the effects of land-use change on streamflow. Journal of Hydrology, 310, 28–61.
Ellison, D., Futter, M. N., & Bishop, K. (2012). On the forest cover–water yield debate: from demand- to supply-side thinking. Global Change Biology, 18(3), 806–820.
Artikel Terkait
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar
Mahfud MD Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla di UGM Dimutilasi untuk Adu Domba Umat Beragama