“Kami cari makanan, apa pun itu, kelapa, kami berenang biar gak hanyut,” ujarnya.
Sedikit beras yang berhasil mereka dapatkan pun dimasak dengan susah payah. Hasilnya dibagi-bagi dengan sangat hati-hati.
“Ada nasi beras dikit, kami masak pakai api, sesendok-sendok satu orang, itu pun diprioritaskan untuk anak-anak. Kami (orang dewasa) gak usah (makan),”
kenang Wahyu.
Hidup mereka benar-benar bergantung pada sisa-sisa makanan dan buah-buahan yang bisa ditemukan. Baru di hari keenam, air mulai surut. Tapi, kondisi tetap sulit. Kisah ini bukan sekadar laporan bencana, melainkan potret nyata tentang ketahanan manusia di ujung keterbatasan.
Artikel Terkait
Gelombang Mundur di OJK dan BEI, Isu Free Float Diduga Jadi Pemicu
Kaesang Menangis di Panggung Rakernas, Janjikan PSI Akan Jadi Partai Besar
Botol Pink Kosong dan Misteri N2O dalam Kasus Lula Lahfah
Polisi Ungkap Kronologi Terakhir Lula Lahfah, dari Kafe hingga Ditemukan Meninggal