“Kami cari makanan, apa pun itu, kelapa, kami berenang biar gak hanyut,” ujarnya.
Sedikit beras yang berhasil mereka dapatkan pun dimasak dengan susah payah. Hasilnya dibagi-bagi dengan sangat hati-hati.
“Ada nasi beras dikit, kami masak pakai api, sesendok-sendok satu orang, itu pun diprioritaskan untuk anak-anak. Kami (orang dewasa) gak usah (makan),”
kenang Wahyu.
Hidup mereka benar-benar bergantung pada sisa-sisa makanan dan buah-buahan yang bisa ditemukan. Baru di hari keenam, air mulai surut. Tapi, kondisi tetap sulit. Kisah ini bukan sekadar laporan bencana, melainkan potret nyata tentang ketahanan manusia di ujung keterbatasan.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions