Suara keprihatinan bergema dari sejumlah negara Timur Tengah dan Asia. Kali ini, menyusul rencana Israel yang disebut-sebut akan membuka perbatasan Rafah tapi hanya untuk satu arah. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, bersama dengan koleganya dari Mesir, Yordania, UEA, Pakistan, Turki, Qatar, dan Indonesia, secara tegas menyuarakan penolakan.
Inti masalahnya? Mereka menilai langkah itu bukan sekadar soal lalu lintas. Menurut para menteri, pembukaan satu arah itu punya tujuan terselubung: memindahkan paksa penduduk Gaza ke wilayah Mesir. Rafah, yang selama ini jadi penghubung utama antara Gaza dan Mesir, tiba-tiba menjadi titik sentral ketegangan baru.
Begitu bunyi pernyataan resmi yang dikutip dari akun X Kementerian Luar Negeri Saudi, Sabtu lalu.
Tambahan keterangan itu terdengar keras dan tanpa kompromi.
Di sisi lain, mereka justru mendorong agar rencana lain yang dijalankan. Yaitu skema perdamaian yang pernah digagas mantan Presiden AS, Donald Trump. Poin kuncinya sederhana: buka Rafah untuk dua arah. Bukan satu.
Artikel Terkait
Mimpi Buruk Berujung Maut: Remaja di Karawang Tewaskan Ayah Kandung
Gus Ipul Tinjau SRMA, Dengar Langsung Kisah Murid yang Hidupnya Berubah
Anggota DPRD Kupang Ditahan, Terancam Pasal KDRT dan Perlindungan Anak
KPK Buka Suara: Gaji Tak Merata hingga Persepsi Korupsi sebagai Hak Istimewa