Maksudnya? Dunia Islam, dalam pandangannya, harus menawarkan sesuatu. Yakni sebuah peradaban alternatif yang berorientasi pada jalan tengah. Peradaban yang mengedepankan perdamaian, inklusivitas, dan tentu saja kerukunan.
Di sisi lain, Din melihat langkah konkret yang baru saja diambil Liga Muslim Dunia. Pekan sebelumnya, mereka meluncurkan platform internet bernama Minhaj. Din menilai ini sebagai langkah strategis yang tepat.
Platform itu bisa jadi sarana penting. Fungsinya untuk mengarusutamakan wajah Islam yang damai, adil, dan progresif.
Mengakhiri sambutannya, Din Syamsuddin berkomentar singkat tentang platform tersebut.
“Walau terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menutup apresiasinya. Sebuah apresiasi yang melihat Liga Muslim Dunia bukan hanya sebagai pemersatu, tapi juga pembangkit peradaban Islam di tengah tantangan zaman.
Artikel Terkait
Hamas Siap Serahkan Gaza ke Komite Teknokrat, Rafah Jadi Syarat Kunci
Tambang Emas Agincourt Akan Diambil Alih BUMN Baru, Perminas
Perempuan di Balik Tudingan Es Spons Kembali Jadi Buruan Netizen
Sepertiga Petugas Haji Tahun Depan Perempuan, Angka Tertinggi Sepanjang Sejarah