Maksudnya? Dunia Islam, dalam pandangannya, harus menawarkan sesuatu. Yakni sebuah peradaban alternatif yang berorientasi pada jalan tengah. Peradaban yang mengedepankan perdamaian, inklusivitas, dan tentu saja kerukunan.
Di sisi lain, Din melihat langkah konkret yang baru saja diambil Liga Muslim Dunia. Pekan sebelumnya, mereka meluncurkan platform internet bernama Minhaj. Din menilai ini sebagai langkah strategis yang tepat.
Platform itu bisa jadi sarana penting. Fungsinya untuk mengarusutamakan wajah Islam yang damai, adil, dan progresif.
Mengakhiri sambutannya, Din Syamsuddin berkomentar singkat tentang platform tersebut.
“Walau terlambat, namun lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menutup apresiasinya. Sebuah apresiasi yang melihat Liga Muslim Dunia bukan hanya sebagai pemersatu, tapi juga pembangkit peradaban Islam di tengah tantangan zaman.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral