Pemimpin Geng Gaza yang Diduga Kolaborator Israel Tewas dalam Insiden Penembakan

- Jumat, 05 Desember 2025 | 05:20 WIB
Pemimpin Geng Gaza yang Diduga Kolaborator Israel Tewas dalam Insiden Penembakan

Yasser Abu Shabab tewas. Kabar itu datang dari kelompoknya sendiri, Pasukan Rakyat, yang mengonfirmasi kematian pemimpin geng Gaza yang selama ini disebut-sebut bekerja sama dengan Israel.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, Kamis malam (4/12/2025), milisi itu menyebut Abu Shabab ditembak. Lokasinya, saat ia berusaha mendamaikan perselisihan di antara anggota keluarga Abu Suneima. Begitu penjelasan mereka.

Sebelum konfirmasi itu beredar, laporan dari Saluran 12 Israel sudah lebih dulu muncul. Mereka menyebut Abu Shabab tewas dalam bentrokan dengan sebuah "klan Gaza". Ia kemudian dilarikan ke Pusat Medis Soroka di Israel selatan, dan dinyatakan meninggal di sana.

Selama perang berlangsung, nama Abu Shabab memang mencuat. Kelompoknya dituding terlibat dalam penjarahan bantuan kemanusiaan yang seharusnya masuk ke Gaza. Bantuan-bantuan itu sendiri diizinkan oleh otoritas Israel. Di sisi lain, Israel memberlakukan blokade ketat yang memicu krisis kelaparan parah di beberapa wilayah. Penjarahan ini, dalam situasi seperti itu, memperburuk keadaan.

Tak heran, para pejabat Israel kemudian mengakui kerja sama mereka dengan kelompok-kelompok bersenjata lokal di Gaza. Tujuannya jelas: membentuk pasukan anti-Hamas. Dan Abu Shabab, dengan pengaruhnya, disebut-sebut sebagai salah satu mitra mereka.

Laporan dari lapangan semakin memperjelas reputasinya. Hani Mahmoud, koresponden Al Jazeera yang melaporkan dari Kota Gaza pada Kamis itu, menyebut Abu Shabab dan anak buahnya "terkenal" – tapi bukan karena hal baik.

"Mereka terkenal karena dugaan keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan penjarahan bantuan," kata Mahmoud.

Lebih lanjut, ia menambahkan, kelompok itu dituding sengaja menghalangi truk bantuan masuk ke Gaza utara. Akibatnya, keluarga-keluarga yang sudah terlantar harus berhadapan dengan ancaman kelaparan yang makin meluas.

Reaksi Hamas pun tak lama datang. Mereka merilis pernyataan tegas menyikapi kematian ini.

Dalam pernyataannya, Hamas menyebut:

"Nasib yang menimpa agen kolaborator yang mati, Yasser Abu Shabab, adalah nasib pasti bagi siapa pun yang menyimpang dari rakyat dan negaranya. Bagi mereka yang mau menjadi alat di tangan penjajah."

"Tindakan kriminal yang dia dan kelompoknya lakukan jelas-jelas keluar dari garis nasional dan sosial kita."

"Kami menghargai sikap keluarga, suku, dan kelompok yang memutuskan memutuskan hubungan dengan Abu Shabab. Serta mereka yang menolak kekerasan terhadap anak bangsa atau kerja sama dengan penjajah. Penutupan sosial terhadap kelompok yang terasing ini adalah langkah tepat."

"Fakta bahwa penjajah menggunakan kelompok-kelompok yang terpuruk secara sosial dan etis, yang melanggar hukum, sebagai alat untuk proyek-proyek palsu di Gaza, hanya menunjukkan satu hal: kegagalan mereka. Ini bukti ketahanan luar biasa rakyat kami."

"Kami tegaskan, penjajah yang gagal melindungi agen-agennya tidak akan bisa melindungi pengikutnya yang lain. Siapa pun yang bermain dengan keamanan rakyatnya dan melayani musuh, akan berakhir di tempat sampah sejarah. Mereka kehilangan setiap penghormatan di masyarakat."

Di tengah berita kematiannya, beredar pula foto-foto warga Gaza membagikan makanan ringan. Sebuah bentuk rasa syukur, konon, atas tewasnya "pengkhianat" Yasser Abu Shabab. Suasana itu menggambarkan betapa dalamnya kebencian terhadap figur yang dianggap mengkhianati perjuangan rakyatnya sendiri.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar