Cik Mail, Sang Penjaga Hutan Aceh yang Berjuang Sendirian

- Kamis, 04 Desember 2025 | 11:20 WIB
Cik Mail, Sang Penjaga Hutan Aceh yang Berjuang Sendirian

Pengalaman Menyusuri Hutan Aceh

Setiap kali saya pulang ke kampung istri di Aceh, ada satu ritual yang tak pernah saya lewatkan: menyusuri hutan. Biasanya saya jelajahi kawasan Aceh Utara dan Aceh Tengah. Dan dalam setiap perjalanan itu, selalu ada satu sosok yang menemani. Dia seorang pejuang lingkungan yang sudah lebih dari tiga puluh tahun berjuang sendirian menjaga hutannya. Banyak yang bilang dia orang gila, ada juga yang menyapanya "menteri hutan". Tapi semua sebutan itu lahir dari satu hal: ketulusannya yang luar biasa, menjaga alam tanpa mengharap apa-apa.

Selama 36 tahun, pria itu berhasil mempertahankan sekitar 300 hektar hutan dari incaran perusahaan negara. Rutinitasnya setiap Jumat selalu sama: membawa berbagai buah untuk satwa liar. Menurut pengamatannya, monyet ekor panjang sampai monyet hitam besar bukan lutung sering datang menyambutnya. Mereka seolah tahu, ini manusia yang membawa kebaikan.

Namanya Cik Mail.

Mempertahankan Hutan dari Penjarahan

Suatu kali, saat kami lagi asyik menyusuri jalur setapak, kami mendapati seorang warga bersiap menebang pohon besar di kawasan lindung. Reaksi Cik Mail spontan dan keras. Dia langsung menghampiri, dan akhirnya rencana penebangan itu pun batal total.

Tapi tidak semua cerita semudah itu. Di kawasan lain, sekitar tahun 2021, kami menemukan tumpukan kayu berukuran besar dan alat berat modern teronggok di tepi hutan. Ukuran kayunya jelas-jelas bukan dari aktivitas legal. Melapor ke pemerintah setempat? Bukan pilihan. Warga sekitar berbisik, aktivitas itu melibatkan orang kuat. Saya sendiri masih dianggap pendatang baru.

Akhirnya, saya putuskan untuk mengirim foto dan dokumentasi ke sebuah grup WhatsApp. Di dalamnya ada perwakilan KLHK, aktivis, bahkan mantan menteri lingkungan hidup. Beberapa hari kemudian, sebuah helikopter terlihat berputar-putar di atas lokasi. Untuk sementara, aktivitas penebangan liar itu berhenti. Tapi cuma sementara. Beberapa minggu berselang, mereka sudah beroperasi lagi, dengan alat yang lebih kecil dan mudah diselundupkan.

Isyarat Banjir Besar

Melihat kondisi hutan yang kian tergerus, saya pernah berucap pada Cik Mail,

"Kalau begini terus, banjir besar cuma soal waktu. Lihat air sungai Krung Kerto saja, sudah keruh sekali."

Cik Mail hanya mengangguk. Perjuangannya terus berlanjut. Setiap Jumat, ia tetap mengirimkan kabar dari wilayah yang ia lindungi sebagian sudah masuk konsesi perkebunan. Ia berjuang agar kawasan itu tak benar-benar hilang.

Namun ketika banjir besar benar-benar melanda, pernyataan resmi pemerintah justru mengecewakan. Seorang menteri menyebut kayu-kayu yang hanyut itu hanya kayu lapuk, bukan hasil tebangan. Pernyataan itu terasa sangat janggal bagi siapa pun yang pernah menginjakkan kaki dan melihat langsung kondisi hutannya. Seandainya para pejabat itu mau turun ke lokasi, mereka akan sadar betapa parah kerusakan yang sebenarnya terjadi.

Air Tetap Sama, yang Berubah Adalah Cara Kita Menjaga Alam

Pada prinsipnya, banjir cuma perpindahan air dari satu tempat ke tempat lain. Jumlah air di bumi ini sebenarnya tak pernah berkurang atau bertambah. Alam diciptakan dalam keseimbangan yang sempurna. Tapi keseimbangan itu mulai goyah ketika berbagai faktor dari keserakahan manusia sampai anomali cuaca saling berpadu dan memperburuk keadaan.

Memang, kerusakan hutan bukan satu-satunya pemicu banjir besar di Sumatra. Tapi mengabaikan peran deforestasi sama saja dengan menutup mata. Kenyataan pahitnya, ekosistem kita sedang berada di ujung tanduk.

Oleh: Deman H.G (Aktivis Lingkungan)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar