Prabowo dan Sawit: Mengapa Ratusan Pohon Tak Sama dengan Hutan

- Rabu, 03 Desember 2025 | 18:40 WIB
Prabowo dan Sawit: Mengapa Ratusan Pohon Tak Sama dengan Hutan

Pohon Sawit Banyak Pun, Tetap Bukan Hutan. Ini Penjelasannya.

"Namanya kelapa sawit, ya pohon, ya kan?" Kalimat itu meluncur dari Presiden Prabowo dalam pidatonya di acara Musrenbang akhir Desember tahun lalu.

Pernyataan itu sederhana, terdengar masuk akal. Tapi realitas ekologisnya jauh lebih kompleks. Faktanya, berapapun jumlahnya, hamparan sawit tak akan pernah bisa disamakan dengan hutan alam. Keduanya berbeda jauh.

Perbedaannya bukan cuma soal jumlah jenis pohon. Ini soal keanekaragaman hayati dan struktur ekosistem yang terbangun. Wong Ee Lynn, seorang ahli ekologi, pernah menegaskan hal ini. Dalam tulisannya di Malaysiakini yang dikutip National Geographic Indonesia, ia menjelaskan bahwa perkebunan sawit adalah monokultur. Artinya, hanya satu jenis tanaman yang mendominasi lahan luas dalam waktu bersamaan.

Nah, menurut Lynn, ekosistem hutan yang beragam itu punya keseimbangan alaminya sendiri. Keseimbangan itulah yang menjaga kesehatan tanah dan seluruh kehidupan di dalamnya. Sayangnya, mekanisme alamiah ini sama sekali tidak ada di perkebunan sawit skala besar.

"Sebaliknya, perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru beberapa cara alam melindungi tanaman," tulis Lynn.

Di sinilah masalahnya mulai berantai. Ketergantungan pada bahan kimia itu justru merusak tatanan alami. Seiring waktu, hama dan gulma menjadi kebal. Alhasil, petani terpaksa menambah dosis atau beralih ke racun yang lebih kuat. Lingkungan pun semakin tercemar, siklusnya jadi makin parah.

Jadi, meski sama-sama hijau dan berdaun, fungsi ekologisnya bagai bumi dan langit. Hutan adalah sistem hidup yang mandiri dan kompleks. Sementara kebun sawit, meski menghasilkan, lebih menyerupai pabrik hijau yang rapuh dan sangat bergantung pada campur tangan manusia.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar