Ira Puspadewi Buka Suara Usai Dibebaskan: Sekadar Bernapas pun Sudah Nikmat

- Senin, 01 Desember 2025 | 11:00 WIB
Ira Puspadewi Buka Suara Usai Dibebaskan: Sekadar Bernapas pun Sudah Nikmat

Bogor – Udara bebas terasa begitu istimewa bagi Ira Puspadewi. Mantan Dirut ASDP itu akhirnya bisa menghirupnya lagi setelah dibebaskan dari tahanan, berkat rehabilitasi yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.

Sebagai ungkapan syukur, Ira dan keluarganya menghadiri kajian tafsir Al-Qur’an yang diasuh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS. Acara itu digelar di Masjid Ibn Khaldun Bogor, Ahad lalu. Kiai Didin sendiri bukanlah sosok asing bagi mereka. Beliau adalah guru, terutama bagi Zaim Uchrowi, suami Ira. Bahkan, mereka pernah menunaikan ibadah haji bersama sebelumnya.

“Rasa syukur saya ini benar-benar tak terhingga. Bisa kembali menghirup udara bebas, itu karunia yang luar biasa. Terima kasih saya sampaikan kepada presiden yang telah menggunakan hak istimewanya untuk perkara kami,” ujar Ira kepada Suara Islam usai kajian.

Bagi Ira, momen ini bukan sekadar urusan hukum selesai. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai pengalaman spiritual yang sangat bernilai.

Pengalaman spiritual yang ia maksud erat kaitannya dengan pemahamannya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang ternyata menyentuh langsung perjalanan hidupnya. Salah satunya adalah Surat Ad Dhuha.

“Waktu memahami ayat-ayat Ad Dhuha, saya merasa surat ini benar-benar cocok dengan diri saya. Saya ini kan anak yatim. Dari situ saya paham, Allah tak akan pernah meninggalkan saya,” ungkapnya dengan haru.

“Dulu hidup saya susah, tidak punya apa-apa. Lalu Allah angkat derajat saya, beri rezeki yang banyak. Dari miskin jadi berkecukupan. Saat ada masa kebingungan, petunjuk itu datang. Saya berkali-kali baca surat itu dan menangis. Saya sadar, saya sedang bersama Allah,” tambah Ira.

Menurutnya, hikmah dari semua yang dialami adalah perbaikan kondisi spiritual. Meski, diakui Ira, prosesnya tidak mudah sama sekali.

“Saya juga butuh proses untuk sampai pada kesadaran ini. Sekarang, saya harus banyak bersyukur. Hal sederhana seperti bernapas menghirup oksigen saja, sering kita lupa itu pemberian Allah yang gratis,” tuturnya.

Soal rencana ke depan, Ira memilih untuk menikmati kebebasannya dengan cara yang sederhana. Untuk sementara, ia ingin fokus berkumpul dengan keluarga dan bersilaturahmi dengan sahabat.

“Dulu sibuk sekali dengan urusan duniawi. Sekarang, saatnya menikmati hidup dengan lebih banyak bersyukur dan mendekat kepada Allah. Memperkaya batin, itu yang utama. Ke depan, kira-kira seperti itulah arahnya,” ungkapnya.

Dari semua lika-liku yang telah dilalui, Ira menegaskan satu hal: nikmat terbesar adalah iman dan kebebasan.

Ia juga berpesan, siapapun harus tetap semangat berjuang dalam hidup dan berusaha menjadi pribadi yang profesional.

“Hidup ini perjuangan. Saya sendiri punya pengalaman lama bekerja sama dengan perusahaan asing. Menurut saya, kita bisa jadi pendakwah salah satunya dengan menjadi profesional. Bekerja dengan baik, atau kalau bisa, lebih baik lagi,” tandasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar