Misi Rahasia Supir Taksi dan Jurnalis yang Bongkar Brutalitas Rezim Gwangju

- Senin, 01 Desember 2025 | 07:06 WIB
Misi Rahasia Supir Taksi dan Jurnalis yang Bongkar Brutalitas Rezim Gwangju

Kim Sa Bok, supir taksi berusia 48 tahun dari Seoul, itu terburu-buru masuk ke mobilnya. Bersamanya ada seorang jurnalis asal Jerman, Jurgen Hinzpeter dari stasiun TV ARD-NDR. Mereka hendak menuju Gwangju. Perjalanan yang tampak biasa ini ternyata akan menjadi sebuah episode penting dalam sejarah Korea Selatan sebuah upaya berbahaya untuk membuka kedok rezim militer di hadapan dunia.

Tewasnya Park Chung Hee dan Musim Semi yang Singkat

Tahun 1979 menjadi titik balik bagi Korea Selatan. Park Chung Hee, pemimpin yang berkuasa dengan tangan besi selama 18 tahun, tewas bersimbah darah di kediamannya. Pelakunya justru orang kepercayaannya sendiri: Kim Jae Gyu, kepala badan intelijen KCIA. Peristiwa makan malam yang berakhir tragis itu mengejutkan seluruh negeri.

Di balik tembakan itu, tersimpan alasan yang kompleks. Jae Gyu meski dekat dengan Park sudah lama gerah dengan otoritarianisme absolut sang pemimpin. Konstitusi Yushin 1972 memberi presiden kekuasaan hampir tak terbatas: membubarkan parlemen seenaknya, memberangus pers, menangkap tanpa surat perintah. Tapi ada juga persaingan internal. Cha Ji Cheol, Kepala Pengawal Presiden, disebut-sebut sering memojokkan Jae Gyu di hadapan Park.

Puncaknya ketika Jae Gyu diperintahkan membunuh mantan mentornya di Paris, Kim Hyong Uk, yang membongkar skandal Korea Gate kasus suap kepada anggota Kongres AS. Ditambah lagi keputusan Park untuk menindak keras demonstran di Busan dan Masan yang menuntut demokrasi. "Saya melakukannya untuk demokrasi," begitu alasan Jae Gyu di persidangan, meski motif persaingan dengan Ji Cheol juga tak bisa diabaikan.

Choi Kyu-Hah, yang naik sebagai presiden sementara, sempat memberi harapan. Rakyat mengira akhirnya demokrasi akan segera tiba. Tapi harapan itu ternyata terlalu prematur.

Kudeta 12.12 dan Bangkitnya Chun Doo Hwan

Di balik layar, Choi Kyu-Hah sebenarnya tak punya kendali penuh. Kekuatan sesungguhnya ada di tangan militer, khususnya Menteri Pertahanan Noh Jae Hyun dan Kepala Staf Angkatan Darat Jeong Seung Hwa. Tapi ada aktor lain yang sedang menyusun strategi: Chun Doo Hwan.

Doo Hwan, komandan intelijen militer, punya faksi rahasia bernama Hanahoe jaringan alumni akademi militer yang saling mendukung untuk naik pangkat. Lewat posisinya sebagai kepala penyelidik kematian Park, dia mulai merancang kudeta. Caranya? Menuduh Jeong Seung Hwa terlibat dalam pembunuhan Park, dengan dalih bahwa Jae Gyu sempat menemui Seung Hwa usai menembak presiden.

Seung Hwa sendiri sudah curiga. Dia menunjuk Jang Tae Wan perwira yang dikenal bersih dan anti-Hanahoe untuk memimpin pasukan ibu kota. Tapi rencana Doo Hwan sudah terlambat dihentikan.

Tanggal 12 Desember 1979, kudeta pun dilancarkan. Meskipun kalah jumlah, pasukan Doo Hwan menguasai pos-pos komunikasi strategis. Jang Tae Wan kewalahan. Dalam hitungan jam, Doo Hwan berhasil merebut kendali.

Langkahnya setelah itu cepat dan sistematis: membersihkan militer dari unsur non-Hanahoe, mengangkat diri sendiri sebagai panglima, memaksa presiden menandatangani dekrit darurat, membungkam media, dan menangkapi aktivis. Musim semi demokrasi pun berakhir sebelum benar-benar mekar.

Gwangju: Perlawanan dan Pembantaian

Tanggal 18 Mei 1980, warga Gwangju turun ke jalan. Mereka memprotes penangkapan Kim Dae Jung dan penutupan kampus. Tanggapan militer brutal: gas air mata dan peluru tajam. Korban berjatuhan.

Tapi warga tak menyerah. Pada 21 Mei, massa termasuk supir taksi, ibu rumah tangga, mahasiswa menyerbu gudang senjata. Berkat wajib militer, banyak warga yang bisa mengoperasikan senjata. Mereka membentuk semacam "komune" yang mengelola kota sendiri, tanpa polisi atau tentara.

Di tengah situasi genting itu, Kim Sa Bok dan Hinzpeter berhasil menerobos blokade militer. Dengan kamera Arriflex 16 mm, mereka mengabadikan suasana Gwangju yang dikepung. Rekaman itu kemudian diselundupkan keluar.

Tanggal 27 Mei, pasukan khusus menyerbu Gwangju. Pertempuran tidak seimbang terjadi. Militer menyebut warga sebagai "komunis", sambil memblokir informasi ke luar.

Tapi terlambat. Rekaman Hinzpeter sudah sampai ke Jerman Barat, lalu disiarkan oleh ARD pada 29 Mei. Dunia melihat langsung tentara Korea Selatan menembaki rakyatnya sendiri. BBC, NBC, Le Monde, dan New York Times ikut memberitakan. Tekanan internasional membanjir. Chun Doo Hwan dikutak-kutik di panggung dunia.

Warisan yang Tak Padam

Rekaman Gwangju itu diselundupkan aktivis ke kampus-kampus, menjadi bukti nyata kekejaman rezim. Perlawanan terus membara, hingga puncaknya pada Juni 1987 ketika mahasiswa Park Jong Chul tewas disiksa.

Doo Hwan akhirnya terpaksa melakukan transisi, meski berusaha menyerahkan kekuasaan ke kroni Hanahoe-nya, Roh Tae Woo. Tapi gelombang demokrasi sudah tak terbendung. Korea Selatan perlahan berubah: militer dikembalikan ke barak, supremasi sipil ditegakkan, dan aktor-aktor pelanggar HAM diadili.

Bahkan cucu Chun Doo Hwan, Chun Woo-Won, pada 2023 meminta maaf publik atas dosa kakeknya. Kisah kelam ini diabadikan dalam film seperti A Taxi Driver, 1987: When The Day Comes, dan novel Human Acts karya Han Kang. Gwangju mungkin sebuah luka, tapi dari sanalah demokrasi Korea Selatan lahir.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar