Gelombang Protes Perempuan Afrika: Nyawa Bukan Harga Mati untuk Ditawar

- Minggu, 30 November 2025 | 22:06 WIB
Gelombang Protes Perempuan Afrika: Nyawa Bukan Harga Mati untuk Ditawar
Suara yang Tak Lagi Bisa Dibungkam

Suara yang Tak Lagi Bisa Dibungkam

Beberapa bulan terakhir, gelombang femisida di Afrika bukan cuma soal angka statistik yang mengerikan. Ini lebih dari itu. Ini adalah ledakan suara perempuan-perempuan yang sudah muak dibungkam. Ribuan dari mereka membanjiri jalanan, mengacungkan poster bertuliskan "Stop killing women" dan "Protect us alive, not dead". Intinya cuma satu: mereka tidak butuh belas kasihan. Yang mereka tuntut adalah hak paling dasar, yaitu hak untuk hidup. Dan jujur saja, aksi massal ini membuat dunia internasional tak bisa lagi pura-pura tutup mata.

Selama ini, femisida sering dianggap sekadar masalah kriminal domestik. Padahal, di banyak negara Afrika, pembunuhan perempuan oleh pasangan atau mantan pasangan sudah lama menjadi fenomena sosial yang sangat serius. Laporan polisi kerap diabaikan. Pelaku dibebaskan dengan hukuman ringan. Korban malah disalahkan. Di tengah situasi seperti itu, jalanan menjadi ruang terakhir untuk menuntut keadilan. Makanya, kita lihat aksi-aksi seperti long march, "protes berbaring", sampai mogok kerja perempuan. Bentuknya beda-beda, tapi esensinya sama: nyawa perempuan bukanlah sesuatu yang bisa ditawar.

Melihat semua ini, satu pertanyaan terus mengusik. Kenapa dunia baru bergerak ketika perempuan sudah turun ke jalan? Padahal, kekerasan ini sudah berlangsung lama sekali. Nyawa perempuan melayang satu per satu, jauh sebelum istilah "Femisida Afrika" menjadi viral. Suara mereka baru dianggap penting ketika sudah menjadi "gangguan" bagi publik. Ini membuktikan satu hal yang pahit: kita hidup dalam budaya yang baru peduli kalau perempuan sudah berteriak bersama-sama.

Akar Kemarahan di Afrika

Gerakan ini tentu tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah puncak gunung es dari kemarahan, duka, dan kegagalan sistem yang menumpuk. Di banyak negara Afrika, femisida dibiarkan terjadi karena tiga masalah utama: patriarki yang masih sangat kuat, kesenjangan ekonomi yang lebar, dan sistem hukum yang lemah. Banyak perempuan sudah berani melapor, tapi tidak ditangani serius. Banyak pelaku hanya mendapat hukuman simbolis. Masyarakat pun sering menyalahkan korban. Dalam kondisi seperti itu, protes jalanan bukan lagi sekadar pilihan. Bagi banyak orang, itu adalah satu-satunya "alat bertahan hidup" yang tersisa.

Yang paling menggetarkan dari demonstrasi anti-femisida di Afrika sebenarnya bukan cuma jumlah massanya yang besar. Tapi lebih pada kesadaran kolektif yang tumbuh di antara para perempuan. Mereka kini percaya bahwa perubahan tidak akan datang jika mereka hanya diam menunggu. Ada pemahaman baru yang mengkristal: perlindungan bukanlah sesuatu yang ditunggu dari negara, melainkan sesuatu yang harus dituntut dengan tegas.

Cermin Buram untuk Indonesia

Membicarakan Afrika bukan berarti kita di Indonesia lebih baik. Jangan salah. Di tanah air, kasus kekerasan berbasis gender termasuk pembunuhan oleh pasangan intim juga terus menunjukkan tren yang meningkat. Memang, kita punya undang-undang dan berbagai kampanye. Tapi realitanya? Banyak penyintas masih takut melapor. Pelaku bebas berkeliaran. Masyarakat masih gemar menyalahkan korban. Intinya, kita tidak jauh berbeda dari kondisi di Afrika. Satu-satunya pembeda, mungkin kita belum sepenuhnya mencapai fase "sudah tidak tahan lagi".

Karena itulah, aksi jalanan di Afrika menjadi semacam cermin yang penting untuk kita renungkan. Pertanyaan yang menggelitik adalah: jika kekerasan terhadap perempuan di Indonesia semakin menjadi-jadi, apakah kita akan punya nyali untuk bersuara lantang? Atau justru kita akan terus berharap sistem berubah dengan sendirinya, tanpa ada tekanan dari publik?

Pelajaran terbesar dari fenomena Femisida Afrika bukan cuma tentang angka kekerasan yang mengkhawatirkan. Tapi tentang bagaimana perubahan bisa lahir ketika masyarakat memutuskan untuk berhenti diam. Perempuan Afrika tidak menunggu keadaan membaik. Mereka yang memaksa keadaan untuk berubah.

Demonstrasi jalanan di Afrika mengingatkan semua orang bahwa femisida bukanlah urusan privat. Ini adalah krisis kemanusiaan. Gerakan itu menyampaikan pesan yang tidak hanya ditujukan kepada pemerintah Afrika, tapi juga kepada kita di Indonesia: kehidupan perempuan tidak boleh direduksi menjadi sekadar statistik. Perlindungan terhadap perempuan bukanlah hadiah, melainkan kewajiban mutlak negara.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi "kapan pemerintah akan berubah?". Tapi, "kapan kita akan berhenti membiarkan kekerasan dianggap sebagai hal yang wajar?". Ketika perempuan Afrika berteriak lantang di jalanan, itu bukan cuma sekadar protes. Itu adalah ajakan global untuk tidak menunggu sampai salah satu dari kita menjadi korban berikutnya, baru kita mulai peduli.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar