Sebuah permintaan maaf resmi disampaikan Gubernur Papua, Mathius Fakhiri. Permintaan maaf itu terkait meninggalnya Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya. Tragisnya, Irene menghembuskan napas terakhir setelah ditolak oleh sejumlah rumah sakit di Jayapura saat hendak melahirkan.
"Kami meminta permohonan maaf kepada keluarga korban," ujar Fakhiri di Jayapura, Minggu (23/11). Menurutnya, peristiwa ini harus jadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah. Tujuannya jelas: memperbaiki sistem layanan kesehatan secara berkelanjutan untuk masyarakat Papua.
Fakhiri tak menampik bahwa kasus ini mengungkap persoalan lama. Mulai dari pengawasan yang lemah, peralatan medis yang rusak, sampai budaya pelayanan yang abai terhadap keselamatan pasien. Karena itu, ia berjanji akan mengevaluasi para direktur rumah sakit yang berada di bawah Pemprov.
"Kami akan mengambil langkah tegas agar kasus seperti ini tidak terulang," tegasnya. Ia juga telah melaporkan kondisi ini kepada Menteri Kesehatan dan meminta dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat perbaikan sarana, tata kelola, dan standar pelayanan medis di Papua.
Perjalanan Panjang yang Berakhir Duka
Kisah pilu ini berawal ketika Irene dibawa dari Kampung Kensio menuju RS Yowari pada Minggu (16/11) siang. Ipar Irene, Ivon Kabey, menceritakan kronologi yang memilukan.
"Kami tiba di RSUD Yowari pukul 15.00 WIT. Saat itu status pasien sudah pembukaan enam dan ketuban pecah," kata Ivon. Namun, proses persalinan tak kunjung ditangani. Alasannya, diduga bayi berukuran besar, sekitar empat kilogram.
Keluarga pun meminta percepatan rujukan karena kondisi Irene semakin gelisah. Tapi, surat rujukan baru selesai mendekati tengah malam. Ambulansnya sendiri baru tiba pukul 01.22 WIT, Senin dini hari.
Masalahnya, rujukan ke RS Dian Harapan dan RS Abe ditolak. Alasan mereka, ruangan penuh dan sedang renovasi fasilitas.
Setelah ditolak tiga rumah sakit, Irene kembali dirujuk ke RS Bhayangkara. Lagi-lagi, harapan pupus. Rumah sakit ini menolak karena keluarga harus membayar uang muka Rp 4 juta terlebih dahulu. Saat itu, keluarga tak punya uang sebanyak itu.
Artikel Terkait
RSUD di Sumatera Kembali Beroperasi, Namun Sejumlah Puskesmas Masih Terhenti
Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise
Pasca Banjir 2025, 15 Daerah di Aceh hingga Sumbar Masih Belum Pulih
Tito Desak Tambahan 15 Ribu Personel TNI-Polri untuk Bersihkan Lumpur Pascabencana Aceh