"Bapak (korban) nanya di mana Rustam, nah dia (pelaku) di belakang, bapak masuk ke sana ikutin. Posisi saya lagi nyapu, bapak masuk ke dalam," kenangnya.
Suasana yang awalnya biasa saja, tiba-tiba berubah mencekam. Sri Rahayu mendengar korban, Marso, mengajak Rustam untuk kembali bekerja di Pesisir Barat. Tapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Rustam.
"Saya dengar bapak ngomong, 'Ayo tam, pulang ke gunung (Pesibar)'. 'Enggak mau' kayaknya gitu," lanjut Sri.
Namun begitu, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan. "Dia masuk kamar, bapak didorong, terus dianuin tak kirain kayu, engga taunya pas darah muncrat baru sadar kalau ternyata golok," ujarnya dengan suara bergetar. Ia mengira Rustam hanya memegang kayu, ternyata itu adalah golok yang kemudian digunakan untuk menghabisi sang ayah.
Melihat darah yang muncrat, Sri Rahayu langsung lari ketakutan ke rumah tetangga di belakang. Sementara Rustam, dengan tenangnya, pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Sri juga mengungkapkan bahwa kondisi kejiwaan Rustam memang sudah lama tidak stabil. "Dia (pelaku) emang terganggu mentalnya, udah 15 tahunan dulu sempat dibawa sama Polisi sama Pak Lurah ke Rumah Sakit Jiwa, tapi pulang rawat jalan gitu," pungkasnya. (Yul/Put)
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pencak Silat Sebagai Cermin Jati Diri dan Ilmu Kesatria
Tim SAR Kerahkan Drone Thermal Cari Remaja 14 Tahun yang Hilang di Hutan Mamuju
Arsenal Tersungkur di Kandang Sendiri, Bournemouth Menang 2-1
Ayah di Cianjur Ditahan Diduga Cabuli Anak Kandung Usia 10 Tahun