Menguak Konsep Dosa Jariyah: Bukan Warisan, Tapi Jejak yang Tak Terputus

- Jumat, 21 November 2025 | 19:00 WIB
Menguak Konsep Dosa Jariyah: Bukan Warisan, Tapi Jejak yang Tak Terputus
Mengurai Makna Dosa Jariyah

Langit di atas Sungai Code mulai menguning ketika Ustaz Rasid Mahzumi menutup kitabnya dengan perlahan. Di depannya, belasan mahasiswa berjejal dalam halaqah kecil itu. Ada yang sibuk mencatat, sementara lainnya hanya menatap langit sore yang berubah warna. Suasana hening sejenak sebelum Rangga Prakoso, mahasiswa hukum, mengangkat tangan.

"Ustaz," ujarnya, suaranya terdengar penuh keraguan. "Saya masih bingung nih soal dosa jariyah. Katanya dosa bisa mengalir terus. Tapi di Al-Qur'an jelas-jelas disebutkan bahwa setiap orang nggak akan menanggung dosa orang lain. Bukannya ini kontradiktif?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, menunggu diurai. Rasid, seperti biasa, siap memecahkan benang kusut pemahaman tentang istilah yang sebenarnya tak pernah ditemukan dalam hadis manapun dosa jariyah.

Ketika Ayat dan Akal Berbicara

Dengan tenang, Rasid membuka mushaf kecilnya yang sudah usang mungkin lebih tua dari sebagian besar mahasiswa yang hadir.

"Pertanyaannya tepat sekali," katanya, mengawali penjelasan. "Dan kamu nggak sendirian, banyak orang yang keliru memahami dua hal yang sebenarnya tidak bertentangan ini."

Dibacakannya pelan-pelan ayat yang menjadi fondasi prinsip keadilan dalam Islam: "Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain." Dari QS. Al-An'am: 164.

Ayat serupa muncul di beberapa surat lain, termasuk QS. Al-Israa: 15. Prinsipnya jelas: setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Tuhannya, tanpa warisan dosa dari siapapun.

"Ini prinsip yang mutlak," tegas Rasid. "Dalam Islam, nggak ada konsep dosa warisan atau beban moral turun-temurun."

Rangga mengangguk, tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Yang belum ia pahami adalah bagaimana hadis-hadis Nabi Muhammad Saw tetap menyebut bahwa seseorang bisa mendapatkan dosa dari perbuatan orang lain.

Dari Hadis yang Sering Dikutip

Rasid kemudian membuka kitab Shahih Muslim terbitan Dar al-Hadits. Ia mengutip sebuah hadis yang cukup familiar di kalangan ahli fikih:

"Barang siapa mengajak kepada kesesatan, ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."

Tak berhenti di situ, ia melanjutkan dengan hadis lain dari Muslim: "Barangsiapa membuat contoh buruk dalam Islam, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka."

Sekilas, hadis-hadis ini memang terlihat bertabrakan dengan ayat sebelumnya. Tapi para ulama sejak dulu sudah merinci duduk perkaranya.

Lalu, Apa Sebenarnya yang Mengalir?

Konsep dosa jariyah istilah populer yang tak pernah diucapkan Nabi sama sekali bukan berarti memindahkan dosa orang lain ke pundak seseorang. Islam tidak mengenal perpindahan dosa. Yang ada hanyalah tambahan dosa, sebagai konsekuensi logis dari seseorang menjadi sebab.

Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menulis dengan gamblang: "Maksud hadis 'menanggung dosa orang lain' adalah ia mendapat dosa karena menjadi sebab terjadinya maksiat, bukan karena memikul dosa mereka. Ini adalah bagian dari dosa yang ia lakukan sendiri."

Ibnu Katsir, dalam tafsirnya terhadap QS. An-Nahl: 25, menegaskan hal serupa. Ayat itu menyebut: "Agar mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuhnya pada hari kiamat dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan..."

Penafsir ulung abad ke-14 itu menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa mereka karena menyesatkan, bukan dosa yang dilakukan oleh para pengikut mereka.

Rasid menutup kitab tafsirnya, pandangannya tertuju pada Rangga. "Jadi, Rangga, mereka tidak memikul dosa pengikutnya," ujarnya tegas. "Mereka memikul dosa baru, yang muncul dari tindakan mereka sebagai penyebab. Itu beda."

Sabab: Penyebab yang Ikut Bertanggung Jawab

Dalam ilmu fikih, ada kaidah terkenal: "As-sababu kal-fa'il." Orang yang menjadi sebab dihukumi seperti pelaku.

Meski kaidah ini biasanya dipakai dalam konteks fikih muamalah dan hukum jinayah, para ulama memperluas relevansinya pada ranah perbuatan moral.

Ambil contoh sederhana: seseorang mengunggah video maksiat. Video itu ditonton jutaan orang. Setiap penonton menanggung dosa tindakannya sendiri. Tapi pembuat video mendapatkan dosa tambahan karena telah membuka pintu maksiat.

Prinsip yang sama berlaku untuk banyak hal: penyebar ajaran sesat, pembangun sistem korup, pencetus kebiasaan buruk dalam keluarga, penulis konten negatif yang terus dikonsumsi, atau politisi yang menghalalkan tipu daya.

"Semua itu," kata Rasid dengan nada serius, "bukan dosa orang lain yang pindah ke kita. Tapi dosa yang lahir dari diri kita sendiri, akibat perbuatan kita yang melahirkan dampak buruk."

Refleksi Rangga di Era Modern

Rangga terdiam cukup lama. Pikirannya melayang ke kasus berita palsu yang dibuat seseorang dan memicu kerusuhan di Makassar beberapa tahun silam. Pembuat hoaks itu mungkin hanya mengetik beberapa paragraf. Tapi akibatnya massif dan merugikan banyak pihak.

Jika ditarik ke konteks keagamaan, perbuatannya bukan sekadar kejahatan sosial; ia telah membuka pintu kejahatan lain yang diikuti banyak orang.

"Jadi sebenarnya," Rangga bersuara pelan seolah berbicara pada dirinya sendiri, "dosa jariyah itu bukan konsep magis yang membuat dosa orang lain pindah ke kita. Tapi dosa karena efek domino dari tindakan kita sendiri."

Rasid tersenyum lega. "Betul sekali."

Garis Pembeda yang Sering Kabur

Apa yang oleh masyarakat disebut dosa jariyah sebenarnya adalah istilah populer untuk fenomena yang sangat logis: dosa yang terus bertambah selama perbuatan buruk seseorang menghasilkan dampak buruk yang berkelanjutan.

Tidak ada perpindahan, tidak ada warisan dosa. Yang ada hanyalah konsekuensi lanjutan dari sebuah perbuatan.

Analoginya sederhana: jika seseorang menyalakan api di hutan, setiap hektare yang terbakar bukanlah "dosa pohon lain" yang berpindah kepadanya. Itu tetap dosa dirinya sendiri hanya saja apinya terus membesar dan meluas.

Tanggung Jawab yang Tak Boleh Dilimpahkan

Saat matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung kampus, Rangga merasakan pencerahan yang dalam. Konsep yang semula kabur perlahan menjadi terang benderang.

Islam konsisten pada prinsipnya: setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Namun di sisi lain, tindakan seseorang dapat menciptakan rantai akibat yang membuat dosanya terus bertambah seiring waktu.

Rasid menutup majelis dengan kalimat pendek yang penuh makna: "Jika pahala jariyah lahir dari kebaikan yang mengalir, maka dosa jariyah lahir dari keburukan yang tak dihentikan. Keduanya bukan tentang memikul dosa orang lain, tetapi tentang jejak yang kita tinggalkan."

Dan di dunia yang serba terhubung seperti sekarang, jejak itu bisa lebih panjang dari usia manusia itu sendiri.

Muhibbullah Azfa Manik, Dosen di Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar