Balada Pahit Pengemudi Ojek Online di Bekasi Utara
BEKASI UTARA Warung kopi sederhana di sudut kota ini menjadi saksi bisu. Di antara asap rokok dan aroma kopi sachet, sekelompok pria berseragam hijau dan biru berkumpul. Mereka adalah pengemudi ojek online yang setiap hari berjuang melawan kerasnya kehidupan. Gelak tawa mereka terdengar, tapi itu bukan tanda kebahagiaan. Justru sebaliknya tawa itu pengganti tangis yang tak boleh mereka tunjukkan.
Warung itu sudah seperti rumah kedua. Dari pagi buta hingga larut malam, bangku-bangku kayunya tak pernah sepi. Di sinilah mereka berbagi cerita, saling menguatkan, sambil menatap layar ponsel yang seringkali membisu.
"S," begitu ia dipanggil, dulu bekerja di perusahaan telekomunikasi ternama. Bidang IT. Gaji tetap, masa depan cerah. Tapi gelombang PHK menghempaskannya ke jalanan.
"Dulu saya yang urus sistem. Sekarang saya yang diburu sistem," ujarnya dengan suara lirih, mata tak lepas dari ponsel. "Katanya rezeki dari mana saja... tapi kok aplikasinya makin pelit ya?"
Di sampingnya, Pak Jaja yang hampir berusia 50 tahun mengangguk paham. Ia pernah merasakan enaknya jadi sopir pribadi. Tapi sejak aturan berubah dan ekonomi sulit, ia banting setir jadi ojek online.
"Dari subuh buka aplikasi," ceritanya sambil mengeluarkan uang receh dari saku. "Baru dapet order jam delapan malam. Cuma sepuluh ribu. Buat bensin aja kurang."
Kisah getir datang dari pengemudi lain, juga inisial S. Mantan pekerja Astra dengan gaji bulanan Rp10 juta. Kini, Rp10 ribu saja susah didapat.
"Kalau lagi sial, seharian cuma satu order. Pulang bawa capek, dompet kosong," keluhnya.
Menurutnya, masalah utama ada dua. Pertama, jumlah pengemudi makin membludak. Kedua, sistem aplikasi yang makin tidak ramah pada mitra.
"Dulu ojol itu solusi. Sekarang... pilihan terakhir," tambahnya.
Di antara keluhan tentang sepi order, ada cerita yang bikin geleng-geleng: order fiktif. Pesanan makanan yang setelah dibeli dan diantar, pemesannya hilang bagai ditelan bumi.
"Uang keluar, nggak ada ganti rugi. Ya dimakan sendiri," kata seorang driver sambil terkekek pahit.
Terkadang makanan itu dibagi-bagi ke sesama pengemudi di warung. Minimal kerugian berubah jadi makan malam bersama.
"Tapi tetep aja sakit. Uang kita yang keluar," ujarnya.
Fenomena ini bukan cuma terjadi di Bekasi. Di berbagai kota di Indonesia, nasib serupa menimpa para pengemudi. Mantan karyawan terampil, sarjana, bahkan staf perusahaan besar kini berebut rezeki di dunia digital.
Tidak ada kepastian penghasilan. Tidak ada jam kerja tetap. Tidak ada perlindungan. Semua bergantung pada algoritma yang tak kenal ampun.
Ironis memang. Di saat Indonesia bangga dengan pertumbuhan ekonomi digital, para penggeraknya justru terpuruk.
"Kalau begini terus, ojol bukan solusi lagi," kata S. "Tapi jeratan."
Senja mulai tiba. Lampu jalan menyala satu per satu. Di warung kecil itu, para pengemudi masih setia menunggu. Menanti notifikasi yang kadang datang, lebih sering pergi.
Tapi mereka tak menyerah. Masih datang ke warung itu, saling menyemangati, berbagi cerita dan tawa. Sebab di balik seragam mereka, ada keluarga yang menunggu. Anak yang perlu biaya sekolah. Dapur yang harus tetap berasap.
Hidup harus terus berjalan, meski dengan sepuluh ribu rupiah sekali order.
Begitulah kenyataan pahit para pengemudi ojek online di Bekasi Utara. Berjuang dari fajar hingga larut malam, menunggangi harapan yang makin menipis, tapi tetap bertahan demi esok yang lebih cerah.
Artikel Terkait
Amanda Manopo dan Kenny Austin Umumkan Kelahiran Anak Pertama, Bayi Laki-Laki Bernama Zac
Tokoh Sepuh NU Kiai Manarul Hidayat Restui Gus Hery Maju Calon Ketua Umum PBNU
Menteri Pertanian Puji Kualitas Bibit Kelapa dan Kakao di Konawe Selatan, Targetkan 3 Juta Lapangan Kerja Baru
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri