BYD Kalahkan Tesla, Harga Sawit Jatuh Terjerembap

- Minggu, 04 Januari 2026 | 05:48 WIB
BYD Kalahkan Tesla, Harga Sawit Jatuh Terjerembap

BYD Geser Tesla, Harga Sawit Terpuruk: Sorotan Bisnis Akhir Pekan

Sabtu kemarin (3/1), dunia otomotif listrik mencatat sebuah pergeseran bersejarah. BYD, raksasa otomotif asal China, akhirnya berhasil menyalip Tesla. Ya, mereka kini resmi menjadi penjual mobil listrik terbesar di dunia untuk tahun 2025. Berita ini langsung jadi perbincangan hangat.

Di sisi lain, pasar komoditas justru dihantui sentimen suram. Harga minyak sawit dunia anjlok, dan kinerja ekspor Malaysia disebut-sebut sebagai biang keroknya. Dua berita inilah yang mendominasi sorotan bisnis akhir pekan lalu.

Peta Baru Industri Mobil Listrik

Perubahan posisi ini bukan terjadi begitu saja. Tesla mencatat penurunan pengiriman, sementara BYD justru terus melesat sepanjang tahun. Menurut laporan The Guardian, BYD berhasil menjual 2,26 juta unit mobil listrik baterai (BEV) pada 2025.

Angka itu jauh melampaui Tesla yang hanya mengirimkan 1,63 juta unit di periode sama.

Ini jelas sebuah penanda. Kekuatan industri mobil listrik global kini bergeser, dan China berada di pusatnya. Produsen China seperti BYD, SAIC, dan Chery yang membawahi merek Omoda dan Jaecoo benar-benar memanfaatkan momentum transisi energi. Mereka tak cuma menguasai pasar domestik, tapi juga gencar merangsek ke kancah internasional. Ekspor mereka terus membesar.

Tekanan Bertubi di Pasar Sawit

Sementara itu, di bursa komoditas, suasana sama sekali berbeda. Harga minyak sawit terperosok. Mengutip Bloomberg, kontrak berjangka sawit bahkan sempat jatuh di bawah level MYR 4.000 ringgit per ton pada perdagangan Jumat (2/1).

Tekanan datang dari mana-mana. Minyak kedelai, pesaing utamanya di pasar pangan dan bahan bakar, juga melemah cukup dalam 1,8 persen di akhir perdagangan Rabu lalu. Itu membuat posisi sawit makin terjepit.

Kondisi pasar energi global juga tidak membantu. Harga minyak mentah sendiri mengalami penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Pasokan yang melimpah dan ketidakpastian geopolitik membuat semuanya terasa gamang.

Namun begitu, ada faktor spesifik yang langsung berdampak: ekspor Malaysia. Negeri penghasil sawit terbesar kedua dunia itu mencatatkan penurunan ekspor bulanan sebesar 5 persen pada Desember, jadi hanya 1,2 juta ton. Data dari AmSpec ini jelas jadi sentimen negatif yang langsung dirasakan pasar. Gabungan semua faktor itulah yang membuat harga komoditas andalan ini terpuruk.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar