Pendidikan Kita yang Tersesat di Persimpangan
Kondisi pendidikan di tanah air memang bikin prihatin. Kurikulum silih berganti, seolah tak pernah menemukan bentuk yang pas. Yang lebih memilukan, niat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional itu sendiri terasa setengah hati. Tidak ada keriusan.
Padahal, jika kita buka UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, tujuannya begitu mulia. Pendidikan nasional dirancang untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Tapi, ya itu tadi. Antara cita dan fakta bagai langit dan bumi. Jauh panggang dari api. Ambil contoh sederhana. Bagaimana mungkin kita ingin membentuk murid yang beriman dan berakhlak mulia, sementara jam pelajaran agama cuma dua jam dalam seminggu? Padahal, pendidikan agama punya peran strategis dalam membentuk karakter anak.
Kalau kita tilik sejarah, sebenarnya Indonesia punya fondasi yang kuat. Sejak masa kolonial, pendidikan di Nusantara berjalan lewat dua jalur utama.
- Pesantren, yang berperan sebagai pusat pembentukan moral, akhlak, dan ilmu agama.
- Sekolah kolonial, yang orientasinya lebih ke birokrasi dan administrasi.
Di masa awal kemerdekaan, Ki Hajar Dewantara sudah menegaskan bahwa pendidikan Indonesia harus menciptakan manusia yang “merdeka lahir batin”. Bukan sekadar pintar, tapi punya karakter dan kepribadian yang kuat.
Namun begitu, perjalanan setelahnya tak selalu mulus. Di era Orde Lama dan Orde Baru, pendidikan kerap dijadikan alat konsolidasi negara. Lalu, ketika reformasi bergulir, kurikulum pun berganti dengan cepat seperti orang kebingungan mencari jati diri. Kita saksikan peralihan dari KTSP, lalu Kurikulum 2013, dan sekarang Kurikulum Merdeka.
Pertanyaan besarnya: apakah semua perubahan ini benar-benar meningkatkan kualitas? Sayangnya, fakta menjawab dengan getir.
Peringkat pendidikan Indonesia di kancah global sungguh mengkhawatirkan. Data PISA 2022 (yang dirilis tahun 2023) menempatkan Indonesia pada posisi yang memalukan.
- Peringkat 71 dari 81 negara dalam literasi membaca.
- Peringkat 73 dari 81 negara dalam matematika.
- Peringkat 72 dari 81 negara dalam sains.
Intinya, kita masih masuk dalam jajaran 10 terbawah dunia. Ini alarm keras. Sistem kita ternyata gagal menumbuhkan kemampuan dasar literasi, numerasi, dan sains pada anak didik.
Di sisi lain, ketimpangan antar sekolah juga terasa sangat tajam. Sekolah di kota besar mungkin sudah mendekati standar modern. Tapi, coba datangi sekolah-sekolah di pelosok desa. Banyak yang masih kekurangan guru, akses internet nyaris nol, perpustakaan seadanya, sanitasi memprihatinkan. Kualitas guru pun timpang distribusinya tidak merata dan kompetensi masih jadi masalah klasik yang tak kunjung usai.
Belum lagi beban administratif yang mencekik. Alih-alih fokus mengajar, guru justru sibuk mengisi berlembar-lembar laporan. Waktu untuk berkreasi di kelas pun tergerus.
Mungkin kita perlu mendengarkan lagi nasihat para pendahulu.
“Pendidikan bukan hanya memajukan intelek, tetapi juga membangun manusia berbudi pekerti.”
Itu pesan Ki Hajar Dewantara yang tetap relevan hingga kini.
Pemikiran serupa juga datang dari ulama besar. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menulis bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kerusakan dan kebangkrutan moral. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menekankan bahwa pendidikan harus membangun peradaban. Tanpa moral, ilmu tidak akan membawa manfaat, malah mendatangkan kehancuran.
KH. Hasyim Asy’ari punya penekanan kuat pada adab sebagai fondasi. Tanpa adab, ilmu takkan berkah. Buya Hamka dengan tegas menyatakan, “Ilmu yang tidak bertali kepada iman adalah ibarat api yang akan membakar pemiliknya.”
Sementara itu, Haji Agus Salim dulu mengkritik pedas pendidikan kolonial yang hanya mencetak pegawai, bukan manusia merdeka. Kritik itu ternyata masih pas untuk menggambarkan kekhawatiran kita sekarang: jangan-jangan sekolah hari ini cuma menghasilkan buruh untuk industri.
Kita Tersesat, Kehilangan Arah
Jika menengok sejarah, Indonesia sebenarnya punya modal besar. Ada pendidikan karakter yang kuat lewat pesantren, dan visi kebangsaan yang idealis ala Ki Hajar Dewantara. Tapi realitas hari ini menunjukkan krisis ganda: kualitas jeblok, akhlak pun terancam.
Kita tidak kekurangan kurikulum. Yang kita butuhkan adalah arah yang jelas. Para ahli menyebutnya learning crisis. Para ulama bicara tentang krisis moral.
Jadi, jalan keluarnya apa? Mungkin kita harus kembali ke dua pilar utama: ilmu dan akhlak, sains dan iman, kemajuan teknologi dan kekuatan moral. Intinya, pendidikan di Indonesia harus mampu menciptakan manusia yang shalih, cerdas, dan kreatif. Wallahu alimun hakim.
Direktur Forum Studi Sosial Politik
Artikel Terkait
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi