Mediasi Ijazah Jokowi Mentok, Cekal Menggelinding Bak Bola Salju

- Jumat, 21 November 2025 | 06:25 WIB
Mediasi Ijazah Jokowi Mentok, Cekal Menggelinding Bak Bola Salju
Mediasi dan Cekal dalam Pusaran Kasus Ijazah

Mediasi Oh Mediasi, Cekal Oh Cekal

Oleh M Rizal Fadillah

Pertemuan antara Refly Harun dan kawan-kawan dengan Tim Percepatan Reformasi Polri pimpinan Prof Jimly Asshiddiqie memang membahas banyak hal. Tapi yang bikin riuh justru soal usulan mediasi kasus ijazah Jokowi. Acara dengar pendapat itu berjalan cukup panas, bahkan berakhir dengan walk out sejumlah tokoh seperti Indra Piliang, Said Didu, Habil Mar'ati, dan Eddy Mulyadi. Mereka protes karena Roy Suryo, Rismon Sianipar, Tifauzia Tyassuma, dan penulis sendiri dilarang ikut dengan alasan status tersangka.

Wacana mediasi ini memang memantik pro-kontra. Jimly bilang mediasi harus disepakati kedua belah pihak tersangka dan Jokowi sebagai pemilik ijazah yang dipersoalkan. Tapi di sisi lain, tim ini kan levelnya di bawah pengadilan yang sudah berkali-kali mencoba mediasi. Jokowi sendiri tak pernah hadir. Berulang kali. Artinya, ijazah itu juga tak pernah muncul di persidangan. Nah, sekarang para tersangka justru menolak mediasi yang rasanya seperti negosiasi politik biasa.

Buat mereka, apa gunanya berunding dengan Jokowi? Ijazah palsu jika memang palsu sudah jadi urusan publik. Seluruh rakyat Indonesia berhak tahu kebenarannya. Jelas-jelas Jokowi tak akan berani memamerkan ijazahnya. Kalau memang asli, pasti dari dulu sudah dibanggakan dengan percaya diri.

Di tengah situasi ini, Polda Metro Jaya malah memberi cekal untuk kedelapan tersangka. Alasannya, khawatir mereka kabur ke luar negeri. Tapi sebenarnya, kemungkinan itu kecil banget. Persoalan pembuktian dan tanggung jawab publik justru ada di dalam negeri. Mereka sudah bertekad bertahan sampai tuntas, apapun risikonya. Melawan ketidakadilan begitu semangat mereka adalah perjuangan yang tak boleh padam. Ijazah palsu Jokowi, kata mereka, jangan sampai jadi racun yang terus merusak bangsa.

Atau jangan-jangan, cekal ini cuma upaya untuk mencegah pembongkaran lebih lanjut? Bukan cuma soal ijazah Jokowi, tapi juga sekolah anaknya, Gibran. Tapi upaya ini agaknya sia-sia. Roy Suryo sendiri mengaku kunjungannya ke Australia beberapa waktu lalu sudah menghasilkan data penting tentang pendidikan Gibran. Jadi, buat apa diulang?

Sementara itu, isu ijazah palsu ini ternyata sudah merambah ke tingkat internasional. Diaspora Indonesia di berbagai negara mulai dapat informasi tentang kasus ini. Buku "Jokowi's White Paper" karya Roy, Rismon, dan Tifa, plus buku "Publik Yakin Ijazah Jokowi Palsu" yang saya tulis, sudah beredar di mana-mana. OCCRP jilid dua konon sedang mengintai juga.

Pada akhirnya, mediasi kemungkinan besar tak akan terjadi. Cekal pun jadi terasa tak bermakna. Kasus ijazah palsu ini terus menggelinding bak bola salju. Sebentar lagi, dokumen-dokumen bohong jika memang bohong akan terbongkar. Dan itu akan memalukan sekaligus menghinakan sang mantan presiden. Jeruji besi sudah menanti. Dari sanalah nanti mungkin akan terdengar senandung sendu: mediasi oh mediasi, cekal oh cekal...

") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 21 November 2025

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar