Koperasi Merah Putih dan Obsesi Proyek yang Mengabaikan Esensi

- Kamis, 20 November 2025 | 15:20 WIB
Koperasi Merah Putih dan Obsesi Proyek yang Mengabaikan Esensi
Opini: Koperasi dan Proyek-proyek Lainnya

Laptop dan Koperasi: Saat Alat Lebih Penting dari Tujuan

Suatu kali, di sebuah seminar menulis, ada anak SMA yang curhat pada saya. "Bang Tere, saya mau jadi penulis, tapi nggak punya laptop bagus buat ngetik. Di rumah cuma ada komputer tua yang lambat," katanya.

Saya cuma diam sebentar. Menatapnya. Lalu saya jawab dengan polos, "Kalau begitu, kamu nggak usah jadi penulis. Mending jadi pemalas saja deh." Alasannya sederhana: kalau dia benar-benar ingin menulis, komputer yang ada pun sebenarnya sudah cukup. Saya sendiri dulu sering minjam mesin ketik tetangga untuk menulis. Itu saja.

Menurut saya, itu jawaban yang tepat. Soalnya, bisa jadi niatnya bukan jadi penulis, tapi sekadar pengen punya laptop baru. Logika yang sama dan ini yang bikin miris ternyata dipraktikkan oleh para pejabat dan elit pemerintah kita hari ini.

Ambil contoh Koperasi Merah Putih. Wah, programnya terdengar mulia. Cita-citanya memang indah, tapi apa benar begitu adanya?

Nyatanya, begitu masuk ke tahap pelaksanaan, semuanya berubah jadi urusan proyek. Dari berita yang beredar, disebutkan bahwa koperasi ini akan dapat gedung dan mobil baru pada 2026. Gimana nggak heboh?

Bayangkan saja: 80.000 koperasi berarti 80.000 proyek pembangunan gedung, ditambah 80.000 pengadaan mobil. Wow, cuan deras! Urusan koperasi jalan atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting proyeknya jalan dan anggarannya cair. Mobilnya sudah dibeli, gedungnya dibangun. Selesai.

Padahal, kalau memang serius mau bikin koperasi, ya jalanin dulu bisnisnya. Gedung bisa numpang atau sewa. Mobil? Itu urusan kesekian. Tapi ini malah dibalik: sibuk urus proyek duluan, bisnisnya nanti-nanti. Mirip banget sama anak tadi yang mikirin laptop dulu, nulisnya belakangan.

Di sisi lain, masalah sebenarnya justru ada di kualitas SDM. Daripada sibuk bangun proyek fisik, mending tingkatkan mutu pendidikan. Dorong sekolah-sekolah agar meluluskan anak yang kompeten, biar mereka yang nanti berpikir bikin koperasi atau usaha lain. Tapi lucunya, selama 20 tahun terakhir, kualitas lulusan SMA/SMK justru turun. Dulu, lulusan SMA bisa langsung kerja di kantor. Sekarang? Lulusan S1 aja masih bingung.

Memang nasib. Di tengah kondisi SDM yang rendah, yang ada di kepala pejabat cuma proyek. MBG proyek. Sekolah Rakyat proyek. Koperasi Merah Putih juga proyek. Semuanya jadi proyek.

(Tere Liye)

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar