Modus Baru Pemandu Palsu di Keraton Yogyakarta, Wisatawan Diarahkan ke Toko Batik
Seorang wisatawan harus belajar dengan cara yang cukup pahit saat berkunjung ke Yogyakarta. Kisahnya tentang penipuan yang dialaminya di sekitar Keraton Yogyakarta pun ramai diperbincangkan di media sosial.
Menurut pengakuannya, pelaku beraksi dengan tampilan yang meyakinkan. Mereka memakai kemeja batik dan membawa semacam tanda pengenal yang seolah-olah menandakan mereka adalah pemandu resmi keraton. Namun begitu, pertemuan itu terjadi di samping keraton, bukan di pintu masuk utama yang seharusnya.
Di sana, si pemandu palsu ini memberitahu sang wisatawan bahwa Keraton sedang tutup untuk renovasi. Tutupnya lama, sampai enam bulan. Alhasil, alih-alih bisa masuk ke dalam keraton, wisatawan malah diarahkan ke sebuah toko yang menjual lukisan dan batik. Ujung-ujungnya ya jelas, diminta untuk berbelanja.
Merespon kejadian ini, Carik Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton Yogyakarta, Nyi Raden Wedana Noorsundari, akhirnya angkat bicara. "Kami sudah mengadakan pertemuan dengan OPD setempat, seperti MPP, Lurah, Kapolsek, dan Danramil," katanya via pesan singkat pada Kamis (20/11). Tujuannya satu: mencari solusi terbaik agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Ditegaskannya, pelaku dalam kasus ini sama sekali bukan pemandu resmi yang dikirim oleh keraton. "Injih, benar bukan pemandu resmi dari Keraton," tegas Noorsundari. Soal kemungkinan proses hukum, pihak keraton masih menimbang-nimbang. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan, mulai dari hukum, sosial, hingga ekonomi.
Lalu, bagaimana caranya agar para pelancong terhindar dari jebakan semacam ini? Noorsundari punya tips sederhana. "Jangan ragu untuk meminta diperlihatkan kartu identitas. Semua pemandu resmi kami pasti memakai ID card," ujarnya. Kalau ragu, wisatawan boleh menolak dan bahkan melaporkan orang yang mencurigakan itu kepada pihak berwajib, Kantor Kemantren, Polsek, atau Koramil.
Dan satu hal lagi, jangan sungkan untuk bertanya langsung ke loket tiket. "Karena sudah jelas resminya," pungkasnya. Lebih baik bertanya sebanyak mungkin daripada menyesal kemudian.
Artikel Terkait
Pakar Hukum: Warga Berhak Gugat Negara atas Kelalaian Infrastruktur Publik
Pemimpin Kartel CJNG El Mencho Tewas, Kekacauan di Meksiko Picu Peringatan Perjalanan dan Pembatalan Penerbangan
Makassar Alokasikan Rp10,6 Miliar untuk Bangun Jalan Akses TPA Antang
Catatan Harian Ungkap Jaringan Dakwah Ulama Sulsel KH Ahmad Surur