Jejak Warung Madura: Menguak Ekosistem Bisnis Etnis di Ibukota

- Kamis, 20 November 2025 | 07:00 WIB
Jejak Warung Madura: Menguak Ekosistem Bisnis Etnis di Ibukota
Warung Madura dan Fenomena Bisnis Etnis

✍🏻 Arham Rasyid (Kendari)

Pernah nggak sih, perhatiin fenomena Warung Madura di Jakarta? Buat saya pribadi, ini jadi semacam culture shock yang menarik pas pertama kali datang ke ibukota.

Rasanya heran aja. Gimana ceritanya, sampai bisnis warung bisa begitu identik dan dikuasai oleh perantau dari Madura? Padahal, kan, gerai ritel modern kayak alfamart atau indomaret udah ada di mana-mana. Tapi faktanya, banyak orang tetep aja memilih belanja di warung mereka.

Nah, ternyata ada sejarah panjang di baliknya, gaes. Semuanya berawal dari akhir tahun 90-an atau sekitar awal 2000-an. Waktu itu, para perantau asal Sumenep di Madura mulai membuka toko kecil. Awalnya sih cuma jualan alat-alat pertukangan kayu. Satu orang berhasil, lalu menginspirasi yang lain. Mereka saling mendukung, kompak banget. Dari situ, usahanya berkembang dan mulai menjual sembako juga.

Lambat laun, bisnis ini menjamur luar biasa. Sekarang, lihat saja. Hampir setiap warung sembako di sudut-sudut Jakarta dikelola oleh orang Madura. Mereka sudah membentuk semacam ekosistem sendiri.

Di sisi lain, fenomena bisnis yang didominasi satu etnis tertentu ini ternyata nggak cuma terjadi di Jakarta. Di kota saya sendiri, contohnya, konter pulsa kebanyakan justru dijalankan oleh perantau asal Bali. Entah bagaimana awalnya, tapi itu yang terjadi.

Kalau urusan warung makan, ya sudah pasti identik dengan orang Jawa dan Padang. Sementara untuk mebel dan kerajinan kayu, orang Toraja yang paling menonjol. Lalu, coba lihat para pedagang di pasar. Banyak dari mereka berasal dari suku Bugis dan Makassar. Sedangkan untuk bisnis kain dan gorden, orang Bulukumba-lah yang mendominasi.

Jadi, memang ada polanya. Seperti mozaik yang tersusun rapi, setiap kelompok punya cerita dan jalurnya masing-masing.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar