Meskipun jumlah tentara wanita Jepang meningkat dua kali lipat selama dekade terakhir, jumlah mereka masih jauh tertinggal dari sekutu Jepang yaitu Amerika Serikat.
Perempuan hanya berjumlah 8,7% dari 230.000 Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF-Japan Self-Defense Forces), yang hanya setengah dari jumlah militer AS, dan hanya 1,6% dari ARDB, yang diaktifkan pada tahun 2018.
“ARDB mempunyai reputasi menuntut secara fisik, mental, dan teknis, dan saya pikir banyak perempuan khawatir apakah mereka bisa mengatasinya,” kata Sersan Staf Maruyama, 38, seorang petugas medis, di ruang makan kapal pendarat amfibi.
Di atas kapal Osumi, perempuan bukanlah hal yang langka. Hanya laki-laki yang mengikuti sesi latihan kebugaran di dek penerbangan.
Maruyama dan Kopral Kurosawa, 20, melakukan latihan kebugaran di gym kecil di kapal sementara rekan pria di sekitar mereka mengangkat beban.
Upaya JSDF untuk menampilkan diri sebagai kekuatan yang lebih ramah perempuan telah dirusak dalam beberapa bulan terakhir oleh kasus-kasus pelecehan seksual yang terkenal.
Pada bulan Oktober 2023, Menteri Pertahanan Jepang, Minoru Kihara harus meminta maaf setelah seorang pelaut Jepang dipaksa menemui atasannya yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: alonesia.com
Artikel Terkait
China Batasi Drama CEO Jatuh Cinta ke Si Miskin, Sebut Sebar Harapan Palsu
Indonesia Khawatir, Langkah Trump Cabut Diri dari 66 Organisasi Internasional Dinilai Ancam Stabilitas Global
Iran Siagakan 400 Unit Tempur, Waspadai Serangan AS-Israel di Tengah Gejolak Dalam Negeri
Kapal Tanker Rusia Disita AS, Moskow Balas dengan Kapal Perang