Dan ada hal sederhana yang kini sangat ia rindukan: masakan rumah. “Saya kangen masakan dia. Masakannya luar biasa,” ujarnya. Hal-hal remeh seperti ini justru yang paling terasa kehilangannya.
Menjelang kepergiannya, rutinitas pagi itu berjalan seperti biasa. Mansyur berolahraga, lalu mendatangi istrinya. Ia mencium kening Rosidah, seperti yang selalu dilakukannya.
Tapi hari itu berbeda. “Saya habis olahraga, saya samperi dia, saya cium keningnya,” tuturnya.
Saat itulah ia menyadari ada yang tidak beres. Kondisi Rosidah tiba-tiba memburuk. Ia tampak kesulitan menelan. Mansyur panik. “Saya pegang kepalanya, saya kasih air, tapi ternyata itu sudah saat-saat terakhir,” katanya mengenang momen pilu itu.
Di tengah kesedihan yang menyiksa, Mansyur berusaha mencari kekuatan untuk ikhlas. Ia mencoba memaknainya. “Mungkin Allah lebih cinta sama dia,” ucapnya, mencoba merelakan.
Ia pun berharap yang terbaik untuk sang pendamping hidup. “Dia orang baik, orang beradab, saya sudah dapat segalanya dari seorang istri,” tutup Mansyur. Pujian terakhir untuk wanita yang telah memberinya segalanya.
Saat ini, keluarga masih menunggu proses pemulasaraan jenazah di rumah sakit. Mereka berharap proses pemakaman nanti dapat berjalan lancar.
Kepergian Hj. Rosidah jelas meninggalkan luka. Bukan hanya bagi Mansyur dan anak-anak mereka, tapi juga bagi siapa saja yang pernah merasakan ketulusan dan kebaikan hati almarhumah semasa hidupnya.
Artikel Terkait
Mario G Klau Siapkan Konser Spesial untuk Rayakan Satu Dekade Berkarya
Fitri Salhuteru Bantah Tuduhannya, Sebut Nikita Mirzani yang Kerap Lakukan Doxing
Andhara Early Akhiri 14 Tahun Pernikahan, Ungkap Perjuangan Melawan Anxiety
Doktif Soroti Penahanan Richard Lee: Ratusan Miliar vs Keadilan yang Tersendat