Malam Pertama yang Berakhir dengan Tangis: Kisah Duka 56 Tahun Mansyur S dan Sang Istri

- Senin, 05 Januari 2026 | 14:15 WIB
Malam Pertama yang Berakhir dengan Tangis: Kisah Duka 56 Tahun Mansyur S dan Sang Istri

Duka yang dalam kini menyelimuti kehidupan pedangdut senior Mansyur S. Sang istri tercinta, Hj. Rosidah, telah berpulang, mengakhiri perjalanan rumah tangga mereka yang telah berlangsung puluhan tahun. Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa.

Menurut Mansyur, istrinya sempat dirawat intensif di rumah sakit sekitar dua pekan. Kondisi kesehatannya terus menurun, dan salah satu pemicunya adalah penurunan gula darah yang sangat drastis.

“Istri saya lahir tahun 1950. Selama ini memang ada riwayat gula, dan terakhir gulanya sempat drop sampai 46,” ujar Mansyur dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal Youtube Reyben Entertainment, Senin (05/01/2026).

Angka 46 itu jelas sangat rendah. Kondisi itulah yang diduga kuat memperburuk keadaannya.

Rasa kehilangan itu terasa begitu berat. Bagaimana tidak, mereka telah bersama selama 56 tahun membangun kehidupan. “Kenangan bersama itu luar biasa. Saya merasa kehilangan karena 56 tahun dia mendampingi saya,” katanya, suaranya tentu saja tertahan.

Pikirannya lalu melayang ke masa lalu, ke hari yang seharusnya paling bahagia. Mansyur teringat momen pahit di hari pernikahan mereka di tahun 1970. Bukannya menikmati malam pertama, ia justru harus pergi manggung.

“Waktu saya jadi pengantin tahun 1970, jam delapan malam saya sudah dijemput untuk nyanyi. Istri saya nangis karena ditinggal,” kenangnya. Bayangkan, awal pernikahan dimulai dengan air mata. Itu kenangan yang tak pernah terlupa.

Namun begitu, di balik semua itu, Mansyur menggambarkan Rosidah sebagai istri yang salehah dan berdedikasi penuh. Dialah tiang keluarga yang mengurus segalanya. “Saya mendambakan istri yang solehah, dan itu saya dapatkan dari almarhumah,” ucap Mansyur penuh syukur.

Dan ada hal sederhana yang kini sangat ia rindukan: masakan rumah. “Saya kangen masakan dia. Masakannya luar biasa,” ujarnya. Hal-hal remeh seperti ini justru yang paling terasa kehilangannya.

Menjelang kepergiannya, rutinitas pagi itu berjalan seperti biasa. Mansyur berolahraga, lalu mendatangi istrinya. Ia mencium kening Rosidah, seperti yang selalu dilakukannya.

Tapi hari itu berbeda. “Saya habis olahraga, saya samperi dia, saya cium keningnya,” tuturnya.

Saat itulah ia menyadari ada yang tidak beres. Kondisi Rosidah tiba-tiba memburuk. Ia tampak kesulitan menelan. Mansyur panik. “Saya pegang kepalanya, saya kasih air, tapi ternyata itu sudah saat-saat terakhir,” katanya mengenang momen pilu itu.

Di tengah kesedihan yang menyiksa, Mansyur berusaha mencari kekuatan untuk ikhlas. Ia mencoba memaknainya. “Mungkin Allah lebih cinta sama dia,” ucapnya, mencoba merelakan.

Ia pun berharap yang terbaik untuk sang pendamping hidup. “Dia orang baik, orang beradab, saya sudah dapat segalanya dari seorang istri,” tutup Mansyur. Pujian terakhir untuk wanita yang telah memberinya segalanya.

Saat ini, keluarga masih menunggu proses pemulasaraan jenazah di rumah sakit. Mereka berharap proses pemakaman nanti dapat berjalan lancar.

Kepergian Hj. Rosidah jelas meninggalkan luka. Bukan hanya bagi Mansyur dan anak-anak mereka, tapi juga bagi siapa saja yang pernah merasakan ketulusan dan kebaikan hati almarhumah semasa hidupnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar