Lukisan SBY Laku Rp 311 Juta, Dana Bantu Korban Banjir Sumatera

- Jumat, 02 Januari 2026 | 07:15 WIB
Lukisan SBY Laku Rp 311 Juta, Dana Bantu Korban Banjir Sumatera

Lukisan SBY Laku Rp 311 Juta, Dana Disalurkan untuk Korban Banjir Sumatera

Nama Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, bukan karena urusan politik, melainkan sebuah aksi lelang lukisannya yang hasilnya mencapai angka fantastis: tiga ratus sebelas juta rupiah. Uang sebesar itu, kata pihak penyelenggara, akan didonasikan seluruhnya untuk membantu para korban banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Lelang ini adalah bagian dari acara Art For Humanity yang digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa lalu. Lukisan bertajuk "God's Day" dibuka dengan harga awal Rp 100 juta. Hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit saja, tawaran naik drastis dan akhirnya berhenti di angka Rp 311 juta.

Karya itu sendiri menggambarkan suasana muram sebuah perkampungan yang diterjang banjir bandang. Air berwarna kecokelatan tampak menenggelamkan rumah-rumah warga, sebuah visualisasi yang terasa sangat personal bagi SBY.

Dalam kesempatan itu, mantan presiden keenam Republik Indonesia itu bercerita panjang lebar. Ia mengenang berbagai bencana besar yang dihadapi Indonesia semasa ia memimpin, salah satunya adalah tsunami Aceh dan Nias di tahun 2004.

"Semua porak poranda, jenazah di mana-mana," ujar SBY, mengenang kondisi Aceh kala itu.

Ia bahkan menceritakan momen haru saat mendiang istrinya, Ani Yudhoyono, memeluk dua anak yang kehilangan seluruh keluarganya.

"Itu adalah puncak sebuah penderitaan. Banyak orang yang menderita, mereka hopeless, tidak punya masa depan," katanya dengan suara bergetar.

Pengalaman-pengalaman itulah, menurutnya, yang menginspirasi lahirnya lukisan "God's Day". "Saya lihat satu per satu deras airnya dari atas sana... Ini tragedi, ini humanity," tutur SBY. Ia pun dengan legawa melepas karyanya, berapapun harganya, asal bisa membantu sesama.

Membicarakan SBY, tentu tak lepas dari perjalanan panjangnya. Pria kelahiran Pacitan, 9 September 1949 ini adalah presiden pertama Indonesia yang dipilih langsung oleh rakyat. Ia memimpin selama dua periode, dari 2004 hingga 2014, didampingi pertama oleh Jusuf Kalla lalu Boediono.

Jalur kariernya dimulai dari dunia militer. Lulusan terbaik Akabri 1973 ini mengabdi hingga pangkat Jenderal, pernah bertugas sebagai pengamat perdamaian PBB di Bosnia, sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2000.

Setelah itu, dunia politik yang digelutinya. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi serta Menko Polhukam di era Presiden Gus Dur. Puncaknya, tentu saja, ketika terpilih sebagai presiden pada 2004.

Di bawah pemerintahannya, ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 5,5 persen, bahkan saat krisis melanda negara-negara maju. Pendapatan per kapita naik signifikan, dan Indonesia kian aktif mengirimkan pasukan perdamaian ke berbagai belahan dunia.

Kini, di masa pensiun, SBY tetap aktif. Dua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), telah meneruskan jejaknya di dunia politik. Dan seperti yang terlihat baru-baru ini, ia juga menyalurkan kegelisahannya melalui kanvas dan kuas. Hasilnya tidak main-main: sebuah karya seni yang bernilai ratusan juta, dan yang lebih penting, untuk tujuan kemanusiaan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar