Kediaman Resbob Digeruduk Massa, Permintaan Maaf Tak Meredam Amarah

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 23:50 WIB
Kediaman Resbob Digeruduk Massa, Permintaan Maaf Tak Meredam Amarah

Kediaman Resbob Digeruduk Massa, Imbas Ucapan Hina ke Suku Sunda

Amuk massa tak terelakkan. Kediaman YouTuber Adimas Firdaus, yang lebih dikenal sebagai Resbob, digeruduk oleh sekelompok orang yang menuntut keadilan. Aksi ini adalah buntut panjang dari konten video Resbob yang menghina suku Sunda dan suporter klub sepak bola Bandung. Ucapannya yang menusuk itu langsung memantik gelombang kemarahan di masyarakat.

Di media sosial, video kerumunan massa di depan rumahnya beredar cepat. Mereka bersikeras agar Resbob diproses hukum. Suara sumbang bahkan terdengar, mengancam akan mengambil tindakan lebih keras jika si YouTuber ini dibiarkan begitu saja.

Lantas, apa yang sebenarnya diucapkan Resbob hingga segininya?

Dalam sebuah video yang kini viral, dia terlihat melontarkan kata-kata kasar yang menyerang fans klub Bandung. Tak berhenti di situ, Resbob juga menyematkan cacian yang menyasar secara spesifik kepada etnis Sunda.

""ng. Viking "ng. Pokoknya semua Sunda "ng!"

Kalimat itulah yang kemudian jadi bahan bakar kemarahan. Reaksi pun berdatangan, dari kritikan pedas hingga geram yang meluap, terutama dari kalangan orang Sunda. Merasakan panasnya situasi, Resbob akhirnya angkat bicara dan meminta maaf.

Melalui TikTok, dia mengaku tak menyangka bisa mengucapkan hal-hal tersebut.

"Pada kesempatan ini, secara resmi saya merasa berkewajiban untuk menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf terkait salah satu ucapan saya saat streaming di Surabaya pada waktu lalu. Saya diingatkan banyak pihak bahwa saya telah menyinggung suku tertentu, tepatnya suku Sunda dengan memberikan stigma tertentu. Izinkan saya menyampaikan klarifikasi bahwa sungguh sesungguh-sungguhnya, saya masih tidak percaya sedikit pun hal itu, ucapan itu, keluar dari mulut saya," ujarnya.

Resbob berargumen mustahil baginya membenci suku Sunda. Alasannya, sejak kecil dia justru diasuh oleh seorang ibu sambung berdarah Sunda.

"Hal itu mustahil dan tidak masuk akal sama sekali bagi saya mengucapkan hal itu. Apalagi terkait dengan suku Sunda. Ketidakpercayaan ini didasari dengan saya sendiri memang lahir dari seorang ibu orang Padang. Namun saya dididik sejak kecil umur dua tahun, dibesarkan dengan kasih sayang seorang ibu sambung yang berdarah Sunda, tepatnya orang Tasikmalaya," jelas Resbob.
"Selain itu, saya juga dibimbing oleh kiai dan tokoh besar yang juga orang Sunda, orang Majelangka, yaitu Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim. Oleh karena itu saya sejak kecil hingga berumur 25 tahun saat ini belum pernah mempunyai masalah atau pun perselisihan dengan orang Sunda. Dan tidak ada sedikit pun kebencian terhadap orang Sunda," sambungnya.

Dia bersikeras bahwa ucapannya itu bukanlah sebuah kesengajaan.

"Meski pun tidak didasari, saya sadar ucapan saya tersebut adalah hal yang sangat sensitif dan tidak ada alasan pembenaran terhadap hal itu. Hal tersebut di luar dari kesadaran saya yang mengakibatkan ini adalah kecelakaan murni," tuturnya.
"Sekali lagi izinkan saya mohon maaf demi akhirat lahir batin yang setulus-tulusnya dan sebesar-besarnya, mudah-mudahan saya mendapatkan maaf dan ikhlas dan doa semua keluarga besar, semu saudara kita, semua warga keturunan orang Sunda dimana pun berada. Terlebih-lebih, saya mohon maaf kepada ibu sambungnya, Umi maafkan firdaus Umi, terutama kepada Kiai saya yang saya muliakan dan saya hormati Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Chalim. Obsesi saya tidak ada lain kecuali saya ingin menyenangkan dan membanggakan beliau yang adalah representasi dari pada orang Sunda juga," pungkas Resbob.

Namun begitu, permintaan maaf yang panjang lebar itu rupanya belum cukup. Amarah massa tak juga reda. Tuntutan agar Resbob diadili secara hukum masih terus bergema, menganggap penghinaan terhadap suku tertentu bukanlah hal yang bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf di layar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar