Memang, bantuan yang sampai masih sedikit sekali. Akses yang terbatas jadi kendala besar. Namun begitu, Najwa merasa terharu melihat ketabahan warga. Mereka tetap bertahan di tengah segala kekurangan. Bahkan, ada hal kecil yang menyentuh hatinya: anak-anak yang tetap bermain. Di tengah kondisi darurat itu, tawa mereka seperti secercah harapan yang tak mau padam.
Perjalanan berlanjut ke Besitang. Pemandangan di sana tak kalah memilukan. Rumah-rumah hancur berantakan. Najwa menyaksikan keluarga-keluarga berusaha membersihkan puing hanya dengan peralatan seadanya. Sungguh, kerja keras yang mengharukan.
“Akses yang belum sepenuhnya pulih membuat bantuan yang tiba masih sangat minim,” ungkapnya, menyoroti persoalan utama yang dihadapi.
Di usianya yang ke-48, Najwa menyadari bencana ini meninggalkan luka yang dalam. Tapi, ia justru melihat keteguhan yang luar biasa. Warga saling bahu-membahu, menunjukkan solidaritas yang kuat. Itulah kekuatan mereka di saat-saat terberat.
Melalui semua cerita ini, Najwa Shihab mengajak kita semua untuk tidak berhenti memperhatikan. Perhatian dan bantuan, sekecil apa pun, sangat dibutuhkan dan sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Sumatera.
Artikel Terkait
Gibran Santai Tanggapi Kritik dan Candaan Pandji: Saya Ikut Bangga...
Diah Permatasari Buka Memori Syuting Bareng Aurelie, Ternyata Ada yang Selalu Jaga
Dari Panggung ke Dewan Pertahanan: Perjalanan Tak Terduga Noe Letto
Badai Grooming atau Pelecehan? Rian DMasiv Dituding Pengguna Threads