Tiga Posisi Membonceng Anak di Motor dan Risikonya

- Kamis, 16 Juli 2026 | 19:36 WIB
Tiga Posisi Membonceng Anak di Motor dan Risikonya

Masih banyak orang tua yang membonceng anak di sepeda motor dengan berbagai posisi, mulai dari duduk di depan, berdiri di tengah, hingga duduk di belakang. Padahal, setiap posisi memiliki risiko yang perlu dipahami agar keselamatan anak tetap terjaga selama perjalanan.

Praktisi Keselamatan Berkendara, Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa sepeda motor tidak memiliki stabilitas seperti mobil. Motor hanya mengandalkan keseimbangan, sehingga posisi penumpang sangat memengaruhi kendali pengendara.

Berikut risiko membonceng anak berdasarkan posisinya di sepeda motor:

Anak Duduk di Depan Bisa Menjadi Benturan Pertama

Menurut Jusri, masih banyak orang tua yang menempatkan anak di depan agar bisa melihat pemandangan selama perjalanan. Namun, posisi tersebut justru membuat anak menjadi orang pertama yang menerima benturan saat kecelakaan.

"Jadi kalau dia (anak) ditaruh di depan misalnya karena supaya dia bisa melihat view, maka si anak akan menjadi bumper daripada pengendara motor tersebut ketika terjadi kecelakaan maka si anak yang duluan membentur daripada si pengemudinya," ucap Jusri saat dihubungi kumparanMOM, Rabu (15/7).

Berdiri di Tengah Mengganggu Keseimbangan Motor

Selain di depan, anak juga tidak dianjurkan berdiri di tengah di antara pengendara dan penumpang. Menurut Jusri, motor hanya mengandalkan keseimbangan, sehingga setiap gerakan penumpang dapat memengaruhi kendali kendaraan.

"Kalau si anak ditaruh di tengah diberdirikan di antara kedua orang tuanya, maka si anak akan mempengaruhi keseimbangan si pengemudi dan si anak gampang sekali jatuh," imbuhnya.

Ia menambahkan, saat anak berdiri di tengah, risiko terjatuh menjadi lebih besar, terutama ketika pengendara harus berbelok atau menghindari kendaraan lain.

Duduk di Belakang Harus Memenuhi Syarat

Jusri mengatakan, posisi yang relatif lebih aman adalah ketika anak duduk di belakang pengendara. Namun, ada syarat penting yang harus dipenuhi, yaitu kedua kaki anak sudah dapat menapak pada pijakan kaki motor.

"Kalau kedua kakinya menggantung maka faktor keseimbangan optimal daripada si pengemudi akan berkurang," tutur Jusri.

Ia mengingatkan, penggunaan helm saja tidak cukup jika postur tubuh anak belum memungkinkan untuk dibonceng.

"Kalau dia (anak) menggantung taruh di belakang benar nih pakai helm sama saja itu membahayakan dan mereka tahu kalau kita bawa motor, bawa seorang anak sama saja kita menjerumuskan si anak dalam sebuah periode waktu yang membahayakan selama perjalanan tersebut," pungkas Jusri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags