Persaingan Saudara Kandung Itu Wajar, Begini Cara Bijak Menanganinya

- Minggu, 28 Juni 2026 | 07:06 WIB
Persaingan Saudara Kandung Itu Wajar, Begini Cara Bijak Menanganinya

Pernahkah Anda mendengar teriakan "Bu, dia ambil mainanku!" atau "Ayah, kakak enggak mau ngantre!"? Kalimat-kalimat itu mungkin sudah menjadi pemandangan sehari-hari di rumah dengan lebih dari satu anak. Dalam psikologi, fenomena ini disebut sibling rivalry, alias persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tua.

Penelitian pada 55 anak usia prasekolah di Lubuk Begalung, Padang, menemukan bahwa sekitar 61 persen anak mengalami sibling rivalry. Temuan yang lebih mengejutkan: 100 persen mahasiswa di salah satu universitas di Padang mengaku masih sering bertengkar dengan saudara kandungnya. Namun, kabar baiknya, 94 persen dari mereka tetap menyatakan hubungan dengan saudara tetap positif meski diwarnai pertengkaran.

Penyebab Sibling Rivalry

Faktor paling dominan pemicu pertengkaran bukanlah rebutan barang, melainkan sikap orang tua yang dianggap tidak adil. Membanding-bandingkan anak atau meminta salah satu mengalah meski posisinya benar dapat memicu kecemburuan. Jarak usia yang terlalu dekat, kurang dari dua tahun, juga meningkatkan persaingan karena anak merasa direbut perhatiannya saat adik lahir. Pada usia lebih matang, pemicu bergeser ke hal-hal domestik seperti rebutan barang, pembagian tugas rumah, atau candaan yang kelewat batas.

Dampak Jika Dibiarkan

Sibling rivalry yang tidak ditangani dengan bijak dapat membawa dampak jangka panjang. Anak bisa menjadi mudah marah, sulit mengendalikan emosi, menyimpan dendam, hingga kesulitan beradaptasi sosial. Di usia dewasa, perasaan negatif seperti kesal dan kecewa pada keluarga bisa meledak sewaktu-waktu.

Langkah Bijak untuk Orang Tua

Hindari membandingkan anak. Kalimat seperti "Kok kamu tidak seperti kakak?" dapat menanamkan rasa ketidakadilan. Beri perhatian setara, bukan sama rata; setiap anak punya kebutuhan berbeda sesuai usia dan karakter. Saat konflik, jangan langsung melerai; beri mereka kesempatan bernegosiasi dan berkompromi. Pastikan setiap anak memiliki barang milik sendiri dan ajarkan meminta izin sebelum meminjam. Jadilah teladan dalam menyelesaikan konflik dengan tenang. Libatkan anak dalam kegiatan bersama yang menyenangkan, seperti menyusun puzzle atau bertukar cerita. Beri waktu untuk memproses emosi sebelum memaksa berbaikan.

Ingatlah, sibling rivalry adalah proses alami anak belajar bernegosiasi, berbagi, dan mengontrol emosi. Dengan pendampingan tepat, persaingan kecil justru menjadi pelajaran berharga tentang empati dan kerja sama yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags