Workshop untuk Orang Tua: Daging Merah Australia dan Nutrisi Anak
Gading Serpong, Tangerang – Gaya hidup sehat dimulai dari piring makan. Itulah pesan yang coba diangkat Meat and Livestock Australia (MLA) dalam sebuah workshop khusus orang tua di Stella Maris International School, Kamis lalu. Fokusnya sederhana: pentingnya asupan bergizi, terutama daging merah, untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Acara yang digelar di Ruang Getsemani sekolah itu bukan sekadar teori. MLA, bersama pihak sekolah, ingin memberikan pemahaman praktis. Mereka secara khusus memperkenalkan daging merah Australia sebagai sumber zat besi berkualitas tinggi yang mudah diserap tubuh.
Christian Haryanto, Chief Representative MLA Indonesia, hadir menyampaikan misi mereka. “Lewat acara ini, kami ingin berperan memberikan edukasi, terutama untuk para ibu, soal pentingnya memenuhi kebutuhan zat besi harian,” ujarnya.
“Asupan zat besi yang cukup itu krusial. Ia menjaga energi dan produktivitas, sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak,” lanjut Christian. Menurutnya, daging merah Australia bisa jadi solusi nutrisi yang tepat bergizi tinggi dan mendukung ketahanan energi keluarga.
Di sisi lain, Maria S. Santy, Head Of School Stella Maris Gading Serpong, menyambut baik kolaborasi ini. Ia menilai workshop semacam ini sangat bermanfaat dan perlu lebih sering diadakan, baik di sekolah maupun komunitas ibu-ibu.
“Informasi yang diberikan benar-benar membuka wawasan. Selama ini kan banyak yang cenderung menghindari daging sapi dan domba, padahal ada manfaatnya,” kata Maria.
Ia berharap ilmu yang didapat orang tua murid hari ini bisa langsung dipraktikkan. Tujuannya jelas: menyiapkan nutrisi optimal untuk tumbuh kembang anak di rumah.
Mengurai Polemik Daging Merah
Untuk mendukung hal itu, workshop menghadirkan Emilia Achmadi, seorang ahli gizi klinis dan olahraga. Emilia langsung menyinggung soal polemik seputar daging merah. “Acara ini hadir untuk mengedukasi para orangtua mengenai kelebihannya,” katanya.
“Kita bahas nutrisi apa saja yang terkandung, dan bagaimana asalnya bisa menghasilkan daging sapi berkualitas,” jelas Emilia.
Tak cuma teori, workshop juga menyoroti cara pengolahan dan porsi yang tepat untuk anak. Rekomendasinya cukup jelas. “Dalam pola makan seimbang anak, dianjurkan konsumsi sekitar 100-120 gram daging merah matang setiap dua hari,” ujar Emilia.
Porsi itu, imbuhnya, bisa dipenuhi lewat berbagai hidangan mulai dari steak, tumisan, masakan slow-cooked, hingga olahan daging cincang. Rekomendasi ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan zat besi secara optimal, sekaligus relevan dengan aktivitas harian anak-anak.
Harapan Emilia sederhana. Ia ingin orang tua paham bahwa semua jenis makanan punya porsinya masing-masing. “Karbohidrat, buah, sayur, daging semuanya harus seimbang. Itu kunci tumbuh kembang yang baik,” tuturnya.
“Saya juga ingin orang tua tidak merasa terintimidasi. Makan sehat itu tidak susah. Menu sehat untuk anak bisa sesederhana itu,” tambahnya.
Demo Masak yang Menggugah Selera
Acara semakin hidup ketika celebrity chef Vania Wibisono turun tangan. Ia mendemonstrasikan cara mengolah daging sapi Australia menjadi bekal yang menarik. Dua menu ia sajikan.
Pertama, Beef Ball Shawn The Sheep. Olahannya kreatif: daging sapi giling dicampur keju, ditumis dengan bumbu, lalu dibalut telur dadar. Hiasan nori membentuk karakter domba yang lucu.
Menu kedua, Beef Saute & Riceball, lebih sederhana. Daging sapi Australia Tenderloin ditumis dengan bawang bombay dan saus teriyaki. Untuk karbohidrat, nasi dicampur nori bubuk lalu dibentuk bulat-bulat kecil.
“Penting banget membuat bekal sekolah yang tidak monoton, terutama untuk anak TK atau SD,” kata Chef Vania. “Dengan variasi seperti ini, saya harap ada sesuatu yang berbeda. Anak-anak pun jadi lebih semangat makan.”
Kenapa Memilih Daging Sapi Australia?
Dalam workshop ini, daging sapi Australia ditonjolkan sebagai pilihan yang aman dan terpercaya. Produk yang diimpor telah melalui sistem jaminan kesehatan hewan yang ketat, bebas dari penyakit seperti PMK dan sapi gila. Semuanya juga telah bersertifikat halal.
Kualitas dagingnya sendiri mempengaruhi hasil masakan. Daging sapi Australia dikenal empuk, juicy, dan lebih cepat matang. Alhasil, proses memasak jadi lebih mudah dan hasilnya pun lezat.
Shafira, orang tua dari murid kelas 3D, membagikan pengalamannya. “Acara ini sangat-sangat bermanfaat. Saya dapat pengetahuan tambahan tentang cara memelihara gizi anak, terutama soal protein dan mineral mikronutrien lainnya,” ujarnya.
Ia mengaku sudah biasa mengonsumsi daging sapi Australia. “Mudah ditemukan di supermarket dekat rumah. Selain itu, mengolahnya juga gampang karena tidak keras, jadi tidak perlu direbus lama-lama,” cerita Shafira.
“Kalau tidak dimasak terlalu lama, nutrisinya tidak banyak hilang. Penyerapannya untuk anak saya jadi lebih maksimal,” pungkasnya.
Artikel Terkait
BAZNAS dan KSrelief Salurkan 7.000 Paket Sembako Senilai Rp6,4 Miliar Jelang Ramadan
Indra Frimawan Terekam Meludahi Fajar Sadboy di Podcast, Tuai Kecaman Warganet
Ruben Onsu Ungkap Alasan Betrand Antusias Sambut Ramadhan
Perseteruan Netizen Korea dan Asia Tenggara Memanas, Isu Rasisme dan Solidaritas Mengemuka