Maka dari itu, menyebut seorang korban sebagai 'mantan pasangan' si pelaku bukanlah perkara kesopanan. Bukan pula cara untuk membuatnya lebih bisa diterima. Justru sebaliknya.
"Itu membuatnya tidak akurat. Lebih buruk lagi, itu mengalihkan fokus dari kerugian dan ke anak itu sendiri," katanya dengan nada prihatin.
Bahasa, bagi Manohara, adalah kunci. "Korban tidak membutuhkan gelar yang menyiratkan pilihan di mana tidak ada pilihan sama sekali. Inilah mengapa bahasa itu penting," tambahnya.
Dampaknya lebih luas dari yang kita bayangkan. Manohara memperingatkan, ketika pelecehan terus digambarkan sebagai suatu 'hubungan', masyarakat secara tak langsung diajari untuk menganggap paksaan sebagai persetujuan. Anak-anak pun dilihat sebagai peserta, bukan korban yang tak berdaya.
"Pola pikir ini menyebabkan kerugian yang nyata," tegasnya. Kerugian itu bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk banyak gadis lain yang menyaksikan bagaimana kasus seperti ini dibicarakan publik.
Di akhir pernyataannya, Manohara menegaskan posisinya. "Saya tidak meminta siapa pun untuk merasa kasihan ke saya. Saya minta keakuratan."
Dan keakuratan itu, baginya, berarti berhenti menampilkan situasi paksa yang melibatkan anak sebagai hubungan sukarela antar orang dewasa. Poin itulah yang ingin dia tekankan. Itu inti dari semua yang dia perjuangkan.
Artikel Terkait
Pramugari Gadungan Palembang Tertangkap Basah, Batik Air Pilih Damai
Ammar Zoni Bongkar Peredaran Narkoba di Balik Jeruji Rutan Salemba
Bayi Lahir dari Perut, Bukan Rahim: Kisah Kehamilan yang Tak Disadari Seorang Ibu
Nisya, Pramugari Gadungan yang Tertipu, Akhirnya Diamankan di Bandara