Agar penjelasan kita nempel di benak anak, ambillah contoh dari keseharian mereka. Bandingkan situasi yang sedang terjadi dengan aktivitas yang sudah mereka kenal. Cara ini jauh lebih efektif ketimbang sekadar memberi instruksi. Anak pun lambat laun paham bahwa konteks itu penting, dan aturan bisa berbeda di situasi yang berbeda pula.
Kenalkan Batasan dan Hargai Pilihan
Di sisi lain, Rizqina menekankan soal boundaries. Ini perlu diajarkan sejak dini. Anak harus paham bahwa setiap orang punya pilihannya sendiri, termasuk orang tua. Sampaikan dengan lembut, agar mereka belajar menghargai perbedaan dan menerima bahwa keinginannya tak selalu bisa dituruti.
sarannya.
Terima, Lalu Arahkan Perlahan
Bagaimana kalau pemikiran anak itu keliru? Jangan langsung disalahkan. Itu hanya akan membuatnya menutup diri. Coba terima dulu sudut pandangnya, baru perlahan kita arahkan pemahamannya lewat pertanyaan atau penjelasan yang tepat.
Pendekatan ini mendorong anak untuk berpikir lebih kritis. Rizqina mencontohkan, “Oh, kamu tuh maunya kayak Ultraman ya. Gak punya temen, punyanya musuh. Emang musuh tuh apa sih? Kalau di Ultraman, musuh tuh monster yang jahat. Kalau di sekolah, ada gak yang kayak gitu?”
Intinya, semua butuh proses. Hadapi dengan sabar, karena setiap celotehan seberapapun ajaibnya adalah benih untuk percakapan yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Januari 2026, Saatnya Virgo Menata Ulang dan Menyambut Angin Segar
Prilly Latuconsina Pamer Gaya Earth Tone yang Elegan Saat Liburan di Jepang
Lebih dari Angpau: Menemukan Makna Baru dalam Tradisi Imlek
Aman atau Tidak? Panduan Lengkap Seks Saat Hamil di Tiap Trimester