Dari Kafe Stockholm ke Indonesia: Revolusi Latte Dad yang Mengubah Wajah Pengasuhan

- Senin, 05 Januari 2026 | 11:06 WIB
Dari Kafe Stockholm ke Indonesia: Revolusi Latte Dad yang Mengubah Wajah Pengasuhan

Di sebuah kafe Stockholm yang cerah, pemandangan ini sudah jadi hal biasa: pria-pria muda dengan jenggot rapi, satu tangan mendorong kereta bayi, tangan lain memegang cangkir kopi. Ini bukan sekadar tren gaya hidup. Lebih dari itu, ini adalah gambaran nyata dari sebuah revolusi pengasuhan yang perlahan mengubah cara dunia memandang peran seorang ayah.

Kebijakan yang Mengubah Segalanya

Swedia sudah memulai langkahnya sejak 1974. Kala itu, mereka mengganti sistem cuti melahirkan menjadi cuti orang tua berbayar yang bisa dibagi. Sekarang, totalnya mencapai 480 hari atau setara 16 bulan penuh untuk disesuaikan oleh kedua orang tua.

Yang menarik, kebijakan ini terus disempurnakan. Sejak 2015, ada 90 hari yang bersifat use-it-or-lose-it khusus untuk ayah. Kalau tidak diambil, ya hangus. Rupanya, strategi ini cukup ampuh. Partisipasi ayah pun melonjak.

Dari yang cuma 1 persen di era 70-an, kini para ayah Swedia mengambil sekitar 30 persen dari total cuti. Fleksibilitasnya juga luar biasa. Cuti itu bisa dipakai kapan saja sampai anak berumur 12 tahun, memberi ruang bagi keluarga untuk mengatur waktu sesuai kebutuhan.

Bukan Cuma Soal Tampang

Istilah Latte Dad memang lahir dari pemandangan sehari-hari di sini. Tapi jangan salah, mereka bukan cuma tampak keren dengan stroller mahal. Keterlibatannya nyata.

Mereka aktif mengganti popok, memberi ASI perah, dan tak sungkan hadir di kelas tumbuh kembang bayi. Tradisi fika nongkrong minum kopi berubah jadi ajang berjejaring dan berbagi cerita sesama ayah. Di sana, obrolan tentang pola tidur bayi atau merek popok terbaik mengalir begitu saja.

Efeknya Terasa Sampai ke Rumah Tangga

Dampaknya ternyata bisa diukur. Sebuah penelitian dari Universitas Stockholm, misalnya, mencatat penurunan 34 persen kasus rawat inap terkait alkohol pada ayah dalam dua tahun setelah punya anak.

Manfaat lain pun beruntun. Ikatan emosional ayah dan anak jadi lebih kuat. Ibu punya peluang kembali berkarier. Beban rumah tangga lebih merata. Yang menarik, angka perceraian dalam keluarga dengan ayah aktif juga dilaporkan lebih rendah.

Bagi anak-anak, pelajarannya sederhana tapi penting: cinta dan perhatian datang dari dua arah, bukan cuma dari ibu. Pelajaran soal kesetaraan gender itu mereka serap sejak dini, jauh sebelum mereka paham istilahnya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Lalu, bagaimana di Indonesia? Realitanya sangat berbeda. Menurut UU, cuti untuk ayah cuma 2 hari. Itu pun bisa ditambah maksimal 3 hari, kalau perusahaan mengizinkan.

Dibandingkan 480 hari di Swedia, jaraknya memang seperti langit dan bumi. Tapi masalahnya tak cuma di regulasi yang minim. Budaya punya pengaruh kuat. Di banyak kalangan, pengasuhan masih dianggap ranah ibu. Tugas ayah? Cari nafkah.

Alhasil, fenomena fatherless di mana ayah hadir secara fisik tapi absen secara emosional masih jadi persoalan serius yang menghantui banyak keluarga.

Ada Sedikit Cahaya di Ujung Terowongan

Meski berat, bukan berarti tak ada harapan. Generasi ayah muda Indonesia sekarang tampaknya lebih sadar. Mereka ingin terlibat. Media sosial juga ramai dengan suara para ibu yang mendambakan partner pengasuhan yang lebih aktif.

Pemerintah mulai bergerak, lewat inisiatif seperti Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah. Beberapa perusahaan swasta pun mulai berani memberi cuti ayah lebih panjang sebagai bentuk dukungan internal.

Perubahan budaya memang tak instan. Tapi dengan terus mendorong kebijakan yang mendukung dan mengubah pola pikir, bukan mustahil nilai-nilai positif dari Latte Dad suatu hari bisa kita rasakan di sini.

Pada intinya, fenomena ini mengajarkan satu hal: investasi pada cuti orang tua yang fleksibel itu bukan cuma urusan keluarga. Ini urusan masyarakat luas. Ketika ayah dan ibu bisa terlibat aktif sejak awal, yang terbentuk adalah generasi yang lebih seimbang.

Ayah bukan mesin ATM. Kehadiran dan perhatian mereka sama krusialnya dengan kontribusi finansial. Jadi, ketika kita melihat seorang ayah asyik mengasuh anak sambil menyeruput kopinya, mungkin kita sedang menyaksikan sekilas masa depan sebuah masa di mana keluarga dibangun dengan fondasi yang lebih inklusif dan setara.

Mungkin, hanya mungkin, suatu hari nanti pemandangan seperti itu akan jadi hal yang biasa di sudut-sudut kafe Indonesia. Bukan sesuatu yang istimewa, tapi normal. Dan itu akan indah sekali.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar