Nama Rama Duwaji, First Lady New York City yang baru, sedang jadi buah bibir. Popularitasnya tak cuma datang karena statusnya sebagai istri Wali Kota Zohran Mamdani. Seni, karakter, dan gaya fashion-nya yang khas benar-benar seperti angin segar.
Berbeda dari kebanyakan istri pejabat AS yang memilih gaya aman blazer atau dress klasik Rama justru berani bereksperimen. Dia mengeksplorasi siluet baru dan mendukung brand-brand yang belum mendunia. Fashion baginya bukan sekadar kain penutup badan. Lebih dari itu, ia adalah medium untuk menyampaikan pesan dan identitas.
Gaya khasnya ini juga menjadi ruang untuk merepresentasikan kehidupan warga kelas pekerja New York, tempatnya berpijak.
Momen pengambilan sumpah jabatan Zohran Mamdani pada Kamis (1/1) tengah malam menjadi buktinya. Saat mendampingi sang suami yang menjadi walkot pertama NYC bersumpah di atas Al-Quran Rama tampil mencolok. Ia mengenakan mantel hitam vintage dari Balenciaya yang dipinjam dari Albright Fashion Library.
Ia padukan mantel mewah itu dengan celana kulot hitam selutut dari The Frankie Shop. Kakinya dibalut sepatu boots sewaan dari Miista. Tampilan serba hitam dan edgy itu dipoles dengan anting emas bergaya kandil, juga disewa dari New York Vintage. Hasilnya? Sangat ikonis.
Penata gaya saat itu adalah Gabriella Karefa-Johnson, mantan redaktur kontributor Vogue. Lewat tulisannya di Substack, Gabriella mengungkap bahwa First Lady Gen Z ini memang punya kebiasaan thrifting atau berburu barang bekas.
“Thrifting adalah hal yang kerap dilakukan Rama dia adalah tukang thrifting andal jadi, menyewa item fashion bekas dirasa menjadi cara paling autentik untuk menjalani momen sebesar itu. Dalam prosesnya dan hasilnya, sungguhlah jelas bahwa Rama tidak memiliki intensi untuk menampilkan diri sebagai sosok selain dirinya sendiri dalam peran baru ini,” tulis Gabriella.
Baginya, pilihan Rama itu adalah pernyataan politis. Intinya: meski menduduki posisi penting, ia tetap ingin menjadi dirinya sendiri, seorang perempuan New York yang apa adanya.
Pernyataan itu berlanjut usai upacara. Saat menyapa warga, Rama berganti pakaian. Kali ini, ia memilih mantel cokelat panjang bergaya A-Line dari desainer Palestina-Lebanon, Cynthia Merhej, untuk brand Renaissance-nya.
Ini bukan kali pertama dia memilih desainer Palestina. Malam kemenangan Pilwalkot November lalu, Rama sudah memakai dress boat neck karya Zeid Hijazi, desainer Palestina-Yordania. Pilihannya jelas: sebuah solidaritas.
“Di hari pertamanya sebagai First Lady New York, Rama mengenakan desainer perempuan independen dari Timur Tengah. Representasi tersebut beresonansi dan bergema. Sebab, fashion itu mengomunikasikan, menyampaikan pesan,” papar Gabriella.
Cynthia Merhej sendiri menyambut hangat pilihan Rama. Desainer itu merasa terhormat.
“Saya mengagumi dan menghormati keputusan Rama memanfaatkan momen ini untuk mengangkat komunitasnya. Dengan memilih mengenakan busana rancangan desainer dari wilayah Timur Tengah, dia memanusiakan kami serta menunjukkan budaya dan kreativitas luar biasa yang kami miliki di sini. Ini semakin membawa harapan besar, harapan bahwa dunia bisa dan akan berubah dalam lanskap yang lebih luas,” ucap Cynthia.
Majalah Harper’s Bazaar menyoroti kontras gaya Rama dengan First Lady sebelumnya. Gaya yang segar dan penuh pernyataan ini dinilai sangat cocok dengan pemerintahan Zohran Mamdani yang diusung oleh semangat perubahan bahkan revolusioner.
Artikel Terkait
Rina Nose Jalani Operasi Hidung oleh Dokter Tompi di Awal Ramadhan 2026
Kuasa Hukum Ungkap Grup Gosip Karyawan Bahas Hubungan Inara Rusli dan Insanul Fahmi
Kurma untuk Buka Puasa: Anjuran Agama yang Didukung Bukti Medis
The Margo Hotel Hadirkan 1001 Flavors Ramadan Buffet Bertema Timur Tengah