Super Flu Subclade K Sudah Serang 62 Warga, Mayoritas Perempuan? Ini Kata Ahli

- Jumat, 02 Januari 2026 | 12:00 WIB
Super Flu Subclade K Sudah Serang 62 Warga, Mayoritas Perempuan? Ini Kata Ahli

JAKARTA – Kasus infeksi Super Flu Subclade K di Indonesia bukan lagi isapan jempol. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan mencatat, hingga akhir Desember tahun lalu, sudah ada 62 orang yang terjangkit virus ini di tanah air.

Varian flu yang pertama kali muncul di Amerika Serikat pada Agustus 2025 itu, kini telah menyebar ke lebih dari 80 negara. Indonesia termasuk salah satunya.

Yang menarik, dari total kasus di dalam negeri, sekitar 40 di antaranya atau 64,5 persen diderita oleh perempuan. Lantas, apa penyebabnya? Apakah virus ini lebih 'suka' menyerang kaum wanita?

Menurut dr. Dicky Budiman, Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, jawabannya tidak sesederhana itu.

"Karena perempuan cenderung lebih sering dan mudah berobat, sehingga lebih mudah terdeteksi," jelas Dicky saat dihubungi via telepon, Jumat (2/1/2026).

Dia menegaskan bahwa Subclade K sebenarnya tidak pilih-pilih gender.

"Subclade K merupakan jenis infeksi yang tidak memiliki gender sensitif. Artinya, ini hanya karena perempuan lebih sering dan mudah berobat. Dengan begitu data tercatat di fasilitas kesehatan," tegasnya.

Jadi, angka yang lebih tinggi pada perempuan lebih mencerminkan pola akses layanan kesehatan, bukan kerentanan biologis.

Semua temuan kasus ini didapat melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI yang berjalan di berbagai faskes sejak Agustus 2025. Sebarannya cukup beragam di sejumlah provinsi.

Jawa Timur mencatatkan kasus tertinggi, yaitu 23. Disusul Kalimantan Selatan dengan 18 kasus, dan Jawa Barat 10 kasus. Beberapa provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta juga melaporkan sejumlah kasus, meski dalam jumlah lebih sedikit.

Dari sisi usia, kelompok anak-anak dan dewasa muda tampak paling terdampak. Sekitar 35,5% kasus berasal dari kelompok usia 1-10 tahun, diikuti usia 21-30 tahun (21%) dan 11-20 tahun (19,4%). Lansia di atas 60 tahun menyumbang 8,1% dari total kasus.

Menyikapi hal ini, Kemenkes mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Langkah pencegahan terbaik tetaplah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menjaga daya tahan tubuh.

Vaksinasi influenza tahunan, terutama untuk kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta, sangat dianjurkan. Vaksin ini masih efektif untuk mencegah sakit berat hingga kematian.

Bila sudah terlanjur merasakan gejala, imbauannya jelas: istirahat di rumah, pakai masker, terapkan etika batuk yang benar. Jangan tunda untuk pergi ke dokter jika gejala tak kunjung membaik setelah tiga hari atau malah bertambah parah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar