Awal tahun selalu punya daya tariknya sendiri, ya. Kita semua seperti punya buku baru yang halamannya masih kosong, menunggu untuk diisi dengan target-target baru. Ingin karir melesat, tabungan bertambah, badan lebih sehat, atau sekadar hidup yang terasa lebih ringan dari tahun kemarin. Semangat itu nyata, menggebu-gebu. Tapi pernah nggak sih, di tengah kita sibuk menyusun daftar panjang itu, kita berhenti sejenak dan bertanya: "Sebenarnya, apa sih yang kita butuhkan supaya bisa bertahan, bukan cuma sekadar bertahan, tapi benar-benar hidup sepanjang tahun ini?"
Soalnya, tanpa kita sadari, resolusi yang mestinya membangun justru bisa berbalik jadi beban. Tekanan baru yang menindih, apalagi kalau fondasi diri kita sendiri sebenarnya belum kuat.
“Kita sering mengejar hal-hal yang kita kira akan membuat bahagia, tapi justru mengabaikan kebutuhan psikologis dan emosional dasar yang menopang kesejahteraan,”
Begitu kata dr. Laurie Santos, seorang Psikolog dari Yale University. Dan menurut saya, dia ada benarnya.
Kebutuhan Fisik: Tubuh yang Sering Dipaksa, Tapi Jarang Didengar
Lihat saja di Januari. Tubuh seolah jadi mesin yang harus dipacu. Bangun subuh, kerja lembur, olahraga ekstra keras, makan cuma salad. Semua demi kata 'disiplin'. Tapi coba tanya, kapan terakhir kali kita benar-benar mendengarkan apa kata tubuh kita? Saat dia mengirim sinyal lelah yang amat sangat, lapar yang bukan sekadar ingin ngemil, atau ketegangan di pundak yang sudah berhari-hari. Kita abaikan.
Padahal, merawat tubuh bukan tentang memaksanya jadi super. Ini lebih soal menjaga agar mesin ini tetap bisa nyala dengan baik. Tidur yang cukup bukan cuma sekadar tidur. Makan dengan penuh perhatian, bukan sambil scroll media sosial. Bergerak dengan cara yang menyenangkan, bukan yang menyiksa. Dan yang paling sering terlupa: memberi waktu untuk pemulihan. Tanpa fondasi fisik yang kokoh, mau resolusi apapun akan terasa seperti mendaki gunung dengan beban di punggung sejak awal.
Kebutuhan Psikis: Pikiran yang Terus Bekerja, Tapi Jarang Diistirahatkan
Nah, kalau yang satu ini seringkali tak kasat mata. Tekanan di awal tahun itu halus banget. Rasa was-was tertinggal dari teman, takut gagal memenuhi ekspektasi sendiri, atau cemas hidup ini akan jadi biasa saja. Media sosial? Itu jadi amplifier-nya. Pencapaian orang lain selalu terlihat lebih cepat, lebih gemilang, lebih… sempurna.
Dampaknya nyata, lho. Pikiran yang dipaksa terus produktif tanpa henti lama-lama akan ngambek. Dia akan lelah. Emosi yang kita pendam, kecemasan yang kita pura-pura tidak ada, dan rasa bersalah karena merasa "kurang" akan menumpuk jadi beban mental yang berat. Merawat kebutuhan psikis itu sederhana sebenarnya: beri ruang untuk merasa sedih atau kesal, izinkan pikiran untuk benar-benar berhenti sejenak, dan berhenti menyiksa diri sendiri dengan tuntutan yang nggak-nggak.
Kebutuhan Spiritual: Makna yang Hilang di Tengah Kesibukan
Pernah nggak merasa hidup seperti roda berputar? Semua berjalan, target tercapai, rutinitas lancar, tapi hati terasa hampa. Kosong. Di titik inilah kebutuhan spiritual biasanya berteriak paling keras meski suaranya sering tenggelam oleh kebisingan hari-hari.
Spiritual di sini nggak melulu soal agama. Ini lebih pada pencarian makna. Untuk apa kita melakukan semua ini setiap hari? Nilai apa yang kita pegang teguh? Arah mana yang sebenarnya ingin kita tuju? Tanpa rasa terhubung pada makna itu, setiap pencapaian terasa datar. Kelelahan pun jadi lebih getir untuk dihadapi.
Jadi, mungkin di tahun ini, kita nggak perlu memenuhi kertas resolusi dengan target yang numpuk. Cukup pastikan tiga kebutuhan dasar tadi fisik, psikis, dan spiritual tidak kita tinggalkan. Karena tumbuh itu bukan soal siapa yang lari paling kencang. Tapi tentang bagaimana kita bisa tetap utuh, sadar, dan punya makna di setiap langkahnya sampai Desember nanti.
Artikel Terkait
Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah
Presiden Prabowo Teken Perpres SMA Unggul Garuda untuk Cetak SDM Unggul
Jalan Kramat Senen Ramai Pemburu Takjil Nasi Kapau Jelang Buka Puasa
LPDP Tegaskan Alumni Kontroversial DS Telah Selesaikan Kewajiban Kontraktual