Hari Ibu tiba lagi. Media sosial pun ramai dengan lautan ucapan terima kasih, foto-foto lawas, dan puja-puji tentang pengorbanan tanpa batas. Semuanya terasa hangat, tak bisa dipungkiri. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini gambaran utuh tentang kehidupan seorang ibu? Atau jangan-jangan, kita cuma merayakan sebuah citra ideal yang sudah usang?
Di balik unggahan penuh bunga itu, kenyataannya seringkali jauh lebih kelam. Bagi banyak ibu, hari itu sama saja dengan hari kemarin. Bangun sebelum MURIANETWORK.COM, urus rumah, siapkan segala kebutuhan keluarga, lalu terjun ke pekerjaan entah di dalam atau luar rumah. Rutinitas yang nyaris tanpa henti. Melelahkan. Dan yang paling menyedihkan, semua itu dianggap wajar.
Peran ibu itu tak pernah tunggal. Coba lihat lebih dekat. Dalam satu waktu, dia adalah pengasuh utama, manajer keuangan rumah tangga, guru pendamping, sekaligus pencari nafkah. Semua peran itu berjalan berbarengan, saling tindih, dan jarang sekali ada pembagian yang adil.
Ketika mereka mengeluh lelah, respons yang datang biasanya cuma satu.
“Namanya juga ibu.”
Kalimat sederhana itu berbahaya. Ia mengubur kelelahan sebagai sesuatu yang harus diterima, bukan sebagai alarm bahwa ada yang tidak beres. Selama sang ibu masih bisa bertahan, beban itu seolah sah-sah saja untuk terus dipikul.
Masyarakat kita memang punya ekspektasi yang luar biasa besar. Ibu harus sabar, harus kuat, harus selalu ada. Bahkan ketika dia juga bekerja di kantor, tanggung jawab urusan domestik seakan tetap melekat sepenuhnya di pundaknya. Di sisi lain, kalau ada pihak lain yang turun tangan, itu disebut "membantu". Bukan kewajiban.
Narasi "ibu kuat" itu seperti pedang bermata dua. Di satu sisi memuji, di sisi lain membebani. Kita memuliakan ketahanan individunya, sementara sistem yang seharusnya menopang justru luput dari sorotan. Akhirnya, banyak ibu bertahan bukan karena situasinya adil, tapi karena memang tak punya pilihan lain.
Ini perlu dikatakan dengan jelas: mengurus rumah, merawat anak, menjaga emosi seluruh anggota keluarga itu semua adalah kerja. Kerja nyata. Cuma karena tidak menghasilkan gaji bulanan, nilainya seakan menguap. Padahal, coba bayangkan apa jadinya keluarga tanpa kerja perawatan ini.
Karena kerjanya tak terlihat, perlindungan pun minim. Dukungan kesehatan mental, jaminan sosial, kebijakan yang ramah keluarga semua masih jauh dari kata memadai. Pada akhirnya, ibu-ibu ini mengandalkan ketahanan pribadi mereka masing-masing. Bukan pada sistem yang seharusnya ada.
Lalu, apa arti Hari Ibu yang sebenarnya? Bagi saya, momentum ini justru tepat untuk mengajukan pertanyaan yang lebih jujur dan mungkin kurang nyaman. Apakah apresiasi kita selama ini benar-benar meringankan beban mereka? Atau cuma jadi ritual tahunan yang itu-itu saja?
Menghargai ibu berarti berani membuka percakapan tentang hal-hal yang tidak mengenakkan. Tentang pembagian peran yang timpang. Tentang kerja yang tak diakui. Tentang kelelahan yang jangan lagi dianggap biasa. Tanpa itu, perayaan ini hanya akan jadi seremoni kosong.
Persoalan beban ganda ini bukan cuma urusan pribadi. Ini soal keluarga, masyarakat, dan tentu saja kebijakan negara. Selama urusan domestik dan pengasuhan masih dianggap sebagai tanggung jawab satu pihak, jangan harap keadilan akan terwujud.
Perubahan memang butuh waktu. Tapi semua bisa dimulai dari satu kesadaran sederhana: bahwa apa yang selama ini kita anggap wajar, belum tentu benar adanya. Hari Ibu bisa jadi pintu masuk untuk refleksi semacam itu.
Merayakan ibu seharusnya berarti melihat mereka sebagai manusia lengkap dengan batas, kebutuhan, dan hak yang setara. Selama beban ganda masih dipandang sebagai hal biasa, penghormatan kita akan terasa setengah hati dan belum selesai.
Pada akhirnya, Hari Ibu bukan cuma tentang kata-kata terima kasih. Ia tentang memastikan bahwa rasa terima kasih itu diterjemahkan menjadi tindakan nyata, pembagian peran yang lebih setara, dan sistem yang memang berpihak.
Artikel Terkait
Dokter Peringatkan Bahaya Terapi Api untuk Obati GERD dan Sesak Napas
PNM Berangkatkan 101 Nasabah Mekaar untuk Umroh sebagai Apresiasi
Baim Wong Tegaskan Perawatan di Korea untuk Stem Cell, Bukan Operasi Plastik
Menkes Peringatkan Risiko Fatal Nonaktifnya BPJS bagi 120 Ribu Pasien Kronis