Liburan sekolah dan momen akhir tahun, siapa sih yang nggak nungguin? Buat banyak keluarga, ini adalah waktu emas buat kumpul dan bikin kenangan. Tapi jangan salah, bagi sebagian anak, justru masa-masa ini bisa bikin mereka kelelahan luar biasa. Bayangkan, jadwal yang berantakan, rumah tiba-tiba jadi ramai oleh tamu, ditambah suara musik, lampu-lampu dekorasi yang berkedip, dan seabrek aktivitas yang numpuk. Semua itu bisa aja bikin si kecil kewalahan.
Nah, kondisi kayak gini punya istilahnya, lho. Menurut laman Parents, ini disebut overstimulasi atau sensory overload. Intinya, overstimulasi terjadi ketika sistem saraf anak kebanjiran rangsangan semua datang sekaligus sampai-sampai dia kesulitan mencerna semuanya. Liburan, dengan segala perubahan rutinitasnya, sering jadi pemicu utama.
Kenali Tandanya: Kapan Anak Mulai "Kebanyakan Stimulus"?
Tandanya bisa beda-beda, tergantung usia dan karakter anak. Tapi secara umum, coba perhatikan hal-hal berikut.
- Rewel atau nangis tiba-tiba, padahal nggak jelas banget penyebabnya.
- Emosinya meledak-ledak, gampang marah, atau tantrum.
- Dia mulai nutup kuping atau berusaha menjauh dari keramaian.
- Sulit fokus, atau malah terlihat menarik diri dari sekitarnya.
- Jadi lebih sensitif, misalnya silau sama cahaya atau terganggu sama suara tertentu.
Kalau beberapa tanda ini muncul, bisa jadi dia sudah kepayahan.
Lalu, Gimana Cara Mencegahnya?
Jangan panik. Liburan tetap bisa menyenangkan kok, asal kita lebih jeli. Beberapa langkah sederhana ini bisa membantu mencegah si kecil kena overstimulasi.
- Pegang teguh rutinitas inti. Jam tidur dan makan usahakan nggak berantakan meski lagi liburan.
- Selipkan waktu jeda. Di sela-sela acara seru, kasih waktu buat anak beristirahat atau main sendirian dengan tenang.
- Beri "briefing" kecil. Kasih tahu dia sebelumnya tentang rencana kegiatan hari itu, biar ada persiapan mental.
- Jangan paksa. Nggak usah maksa anak buat ikut semua acara atau temu keluarga kalau dia udah terlihat nggak nyaman.
- Pulang lebih awal itu opsi bijak. Daripada memaksakan bertahan sampai acara bubar dan anak rewel, lebih baik kita yang mengalah dan mengajaknya pulang.
Intinya, kuncinya ada pada keseimbangan. Kita ingin menciptakan kegembiraan, tapi jangan sampai malah membebani sistem saraf mereka yang masih berkembang. Dengan sedikit perencanaan dan kepekaan, liburan bisa tetap berkesan tanpa drama kelelahan.
Artikel Terkait
Inspirasi Nama Islami untuk Bayi Laki-Laki yang Lahir di Bulan Syaban
Wamenkes: Peserta BPJS PBI Nonaktif Bisa Reaktivasi Langsung di Faskes
Adik Denada Bantah Klaim Uang Muka Mobil Emilia Contessa Rp20 Juta, Tunjukkan Bukti Rp105 Juta
Ressa Rizky Rossano: Pengakuan Denada di Media Sosial Belum Cukup, Harap Bisa Bertemu Langsung